Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indië hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Senin, 28 Oktober 2019

Miras di Hindia Belanda

Kali ini saya akan memperlihatkan koleksi yang saya anggap unik. Stenen Pul (Gelas bir dari batu) yang bermerek Phoenix Bier. 

Phoenix Bier sendiri adalah salah satu merek bir lama di Belanda yang berasal dari kota Amersfoorst. Saat dibentuk pertama kali pada tahun 1872, merek masih mempunyai nama berbeda yaitu Amerfoorstche Beiersch - Brouwerij. Akan tetapi pada tahun 1891, pabrik tersebut bangkrut dan berganti nama serta kepemilikan menjadi Phoenix Brouwerij - Coets de Bosson. 3 tahun kemudian, pabrik diambil alih oleh keluarga Meursing yang merubah nama bir menjadi Phoenix Brouwerij - H. Meursing. co. Akhirnya pada tahun 1904, nama bir diubah menjadi Phoenix Brouwerij. Akan tetapi perusahaan bangkrut pada tahun 1970 dan setahun berikutnya pabrik penyulingan secara kontroversial diratakan. Namun seperti namanya, bir ini lahir kembali.
Kembali ke koleksi, seperti yang anda lihat gelas berwarna putih pucat yang dihiasi dengan gambar dan nama logo.





Uniknya, pada badan gelas terdapat marking 8/20. Sayangnya berbeda dengan helm dimana marking dapat mewakili tahun pembuatan, marking pada gelas tidak berarti gelas dibuat pada Agustus tahun 1920. Akan tetapi marking pada gelas lebih menunjukkan kode produksi pabrik. Dengan kata lain gelas ini adalah gelas nomor 8 dari 20 gelas yang dibuat.

Tentang usia gelas, untungnya kita bisa mendapat jawaban tentang hal tersebut. Menurut pemilik situs Phoenix Brouwerij Amersfoot, Titus Klijsen, gelas batu ini dibuat di tahun 1932. Stenen pul yang saya miliki ada pada katalog pojok atas sebelah kanan. Seperti yang ada perhatikan pada tangkai gelas terdapat beberapa buah celah lengkungan. Kemungkinan itu adalah tempat untuk penutup gelas.
Katalog Produk Phoenix Bier

Phoenix Bier sendiri seperti halnya bir Belanda pada masanya, sudah mencapai taraf internasional. Tidak terkecuali Hindia Belanda-pun mereka jamah.
Iklan Phoenix Bier

Jadi inilah Phoenix Bier, salah satu produk bir yang mungkin tidak sebesar bir - bir di Hindia Belanda lainnya. Akan tetapi bir tersebut tetap saja memberi sumbangan kepada sejarah.
Oh dan berhubung saya membahas miras (minuman keras) di Hindia Belanda, maka saya juga akan memperlihatkan koleksi saya yang lain tentangnya.
Yang pertama adalah katalog dari toko Jepang yang bernama Toko Oceaan di Solo. Salah satu yang mereka dagangkan adalah bir Asahi. Yang membuat menarik adalah bahasa iklan yang digunakan disini sangatlah catchy:

"Membikin seger badan! Maboek sama bier Asahi, ada maboek seneng!' 

[Membuat segar badan! Mabuk dengan bir Asahi, membuat mabuk senang!]

Bir Asahi sendiri didirikan pada tahun 1899 di Osaka dan hingga sekarang masih beredar.
Koleksi berikutnya adalah botol jenever atau gin dengan merek Holstkamp & Zoon & Molyn dari Rotterdam.








Hulstkamp adalah pabrik jenever atau gin yang berdiri pada tahun 1829 di Rotterdam. Pada tahun 1979, perusahaan diambil alih oleh Bols.
Tidak ketinggalan botol jenever lainnya yaitu P. Hoppe dari Schiedam.








P. Hoppe atau Pieter Hoppe berdiri pada tahun 1858. Sebelumnya dia mengambil alih toko anggur di Amsterdam serta mendirikan pabrik penyulingan namun kemudian pindah ke Schiedam karena kesuksesannya. Hingga sekarang jenever ini masih ada bahkan pabrik disewakan untuk kepentingan umum.
Koleksi saya yang terakhir mungkin sama uniknya dengan stenen pul. Papan reklame mini yang memberitahukan bahwa tempat pemasang reklame ini memperdagangkan jenever merek terkenal yaitu Bols.

Bols adalah pabrik jenever yang paling tua. Berdiri pada tahun 1575. Salah satu anggota keluarganya yaitu Lucas Bols bahkan menjadi pemegang saham untuk VOC. Sayangnya keluarga Bols tidak bisa mempertahankan pabriknya dan harus menjualnya pasca Perang Napoleon. Untungnya pembeli yang baru yaitu Gabriel Theodorus van 't Wout diharuskan tetap mempertahankan nama Bols. Meski nantinya pabrik dijual kembali pada tahun 1869 kepada keluarga Moltzer namun Bols tetap bertahan hingga sekarang bahkan mengarungi 2 Perang Dunia sekalipun.
Berikut adalah beberapa contoh produk miras Hindia Belanda yang saya temukan di online.
Bir
Hootbergbier
Sumber


Koentji
Sumber

Tjap Koetjing
Sumber


Heineken
Sumber

Sumber


Kraan
Sumber


Anker
Sumber



Java Bier
Sumber

Sumber

Sumber

Sumber


Diamanti
Sumber


Kris Bier

Sumber

Sumber


Bataviaasche Pintje (Bataviaasche Bier)
Sumber

Sumber

Sumber

Sumber

Sumber


Jenever
Bols
Sumber

Sumber

Brandy
Beehive
Sumber

Kultur miras di Hindia Belanda sendiri termasuk kuat. Miras diminum dalam berbagai acara dan kegiatan. Entah itu resmi ataupun saat piknik. Baik sipil maupun militer.
Litografi prajurit KNIL pribumi dengan seragam veldtenue sedang meminum tuak.
Sumber

Tiap penerima medali onderscheidingsteken voor langdurige dienst als officier akan ditemani dengan jenever. Hal tersebut disajikan tiap kali upacara penyerahan medali. Alhasil medali itu dijuluki dengan jeneverkruis.
Sumber

Para petinggi Belanda di Bayerische Bierstube (kedai bir) di Batavia.
Sumber

Acara yang sama dengan foto sebelumnya.
Perhatikan stenen pul di meja atas.
Sumber

Personel KNIL sedang beristirahat di warung yang berhiaskan iklan bir.
Sumber

Sumber

Sumber

Keluarga Belanda yang sedang ber-picknick (piknik).
Sumber

Sumber

Orang - orang Belanda di kapal Hindia Belanda sedang menikmati bir.
Sumber

Bir disajikan di teras kafe di Hindia Belanda.
Sumber

Personel KNIL beserta koleganya bersantai dengan bir.
Sumber

Bir di tanah Papua yaitu Hollandia yang sekarang adalah Jayapura.
Sumber

Personel koninklijke marine menikmati bir di Jambi.
Sumber

Bir di klub tenis.
Sumber

Pameran kolonial di Semarang yang memamerkan iklan bir.
Sumber

Bols di Hindia Belanda.
Sumber

Jenever di Jawa.
Sumber

Anggota societeit Phoenix di Cirebon sedang menikmati sampanye.
Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar