Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Album Foto Mayor Sugihardjo

Baru saja saya mendapatkan koleksi terbaru yaitu album foto dari seorang perwira infanteri TNI bernama Sugihardjo dengan nomor 18194.
Sugihardjo saat menjabat sebagai Letnan Dua

Nama dan NRP atau Nomor Register Perwira milik Sugihardjo

Namun foto-foto yang terdapat pada album ini sangatlah beragam dan unik.
Sang perwira yang bertugas di Resimen Infanteri ke-20 di Sanggau Kalimantan Barat ini mengabadikan banyak peristiwa yang terjadi di daerah tersebut. Terdapat 237 (!) buah foto disini memperlihatkan berbagai peristiwa dari kebakaran, banjir, latihan perang, patroli di sungai, sesi santai para prajurit, kampanye Pemilu 1955 hingga kunjungan Wakil Presiden Bung Hatta. Selain itu pula sudah pasti dia mengdokumentasikan keluarga dan kerabatnya. 
Berhubung ada beberapa foto yang dia ambil dobel, maka saya berencana untuk menjual beberapa foto tersebut. Tunggu iklannya di setiabudiantiques :3


Letnan Dua Sugihardjo beserta seorang Pembantu Letnan.
Kita bisa melihat lambang Resimen Infanteri ke-20 yaitu Trisula di lengan kiri sang Pembantu Letnan 

Perjalanan karir Sugihardjo
  
Sebagai Letnan Dua

Letnan Satu

Kapten

Sebagai Mayor dan mungkin pangkat terakhir dia sebelum pensiun

Update* 12 Agustus 2015 - Tugas Sugihardjo
Ada kemungkinan Sugihardjo adalah perwira di Bagian Penerangan tepatnya di Seksi V Biro B. Maka sudah pasti dia mendapatkan akses ke acara-acara penting yang ada hubungan dengan pasukannya. Berikut adalah salah satu kegiatan resmi yang dia dokumentasikan. Perjalanan ke pelosok Kalimantan untuk bertemu dan melakukan perjanjian dengan masyarakat setempat, kemungkinan ke Balai Karangan? Foto-foto ini adalah satu-satunya foto yang memakai cap stempel resmi dari Biro Penerangan Resimen Infanteri ke-20.


Kantor Staf BODM Balai Karangan






Update* 17 Agustus 2015 - Saya baru saja mendapatkan folder (map) tugas Mayor Sugihardjo. Akhirnya kita bisa mengetahui tempat tugas terakhir Sugihardjo. Yaitu di Kodam VII Diponegoro di Jawa, Kodam VII sendiri adalah nama lama dari Kodam IV Diponegoro. Oh dan nama dia adalah Sugihardjo bukan Sugikardjo hehehe


Foto Sugihardjo bersama keluarga dan kerabatnya
Bersama istri

dan kedua anaknya

Rumah dinas dia, kemungkinan di Kalimantan Barat


Keluarga kerabat

Kerabat dia di Jawa

Rekan dia, seorang Letnan Satu beserta keluarganya


Setelah perkenalan dia beserta keluarganya, saatnya kita melihat di album foto yang dimaksud

Beberapa foto tentang upacara militer lengkap dengan vandel pasukan


Bagian album yang menunjukkan mendaratnya Bung Hatta di bandara
Jika melihat dari keadaaan beberapa foto, ada kemungkinan Sugihardjo atau anggota keluarganya mengganti foto-foto dari album foto yang lama dan dipindahkan ke album yang baru. Karena beberapa foto yang diambil dari era 1950/60an terdapat bekas kertas album foto sejaman. Bukannya album seperti pada gambar. Mungkin pada tahun 1970an atau 1980an, Sugihardjo melihat keadaan album yang lama sudah tidak baik lagi maka dia memindahnya ke album yang baru? Sekalian dia mencampur foto yang lama dengan foto yang usianya lebih baru. Yaitu foto tentang upacara militer pada awal album foto.
Sebelum mengakhiri thread ini, akan lebih lengkap jika kita mengecek kertas-kertas foto pada topik foto Mayor Sugihardjo dan kerabatnya. Sembari melihat foto-foto dibawah, mari kita sekalian mengecek link ini, ini, dan ini agar anda lebih jelas dalam membacanya
Agfa-Brovira

Agfa

Agfa

Agfa-Brovira

Agfa-Brovira

Bagian belakang foto Sugihardjo dengan pangkat kapten ini memakai logo Agfa 
Bagian belakang foto Sugihardjo di bagian awal thread. Memakai logo Agfa-Brovira

Jujur saja, setelah melihat semua contoh-contoh disini dan membaca beberapa referensi dari link-link diatas membuat kepala pusing dan bingung. loool
Whaaa Agfawhaaaa?????

Memang ada 2 kemungkinan disini, entah semua foto-foto ini memang memakai kertas Agfa sisa Perang Dunia II (kecuali foto Sugihardjo dengan pangkat kapten) atau logo Agfa dan Agfa-Brovira tidak ada hubungannya dengan usia kertas foto. Serta garis-garis pada logo-logo tersebut hanyalah semacam quality control saja. Meskipun begitu tetap saja sejarah foto Agfa disini sangatlah unik. Selain dari Agfa tersebut, keunikan juga ada pada foto ini:
Stempel menarik dari studio foto tempat salah satu kerabat Sugihardjo berfoto.
Kita bisa melihat bahwa sang pemilik studio foto adalah seorang Tiong Hoa bernama Thian Tjin (Cin) dan bertempat di Pontianak. Lebih uniknya lagi terdapat kanji cina yang ikut serta dalam stempel tersebut

Akhir kata, meskipun terlihat remeh namun Mayor Sugihardjo yang sangat rajin berfoto ini berhasil mengabadikan beberapa momen-momen sejarah kecil. Yang mungkin tanpa usaha dia, sejarah ini akan hilang untuk selamanya. Dan saya akan berusaha untuk membuat thread foto-foto hasil cepretan dia disini untuk kedepannya. Just wait :3 


Usia: 1950an - 1970an

Rabu, 05 Agustus 2015

All Quiet on the Western Front

Sumber

Oh well, koleksi kali ini tidak ada hubungannya dengan Perang Dunia I ataupun film legendaris di atas, namun lebih dikarenakan situasi di blog jualan saya. All quiet on the selling front lol
No matter, it's not my main source of income so i don't mind about it. i do really care ;w; lol Yang saya maksudkan disini adalah saya mengklaim barang-barang disini menjadi not for sale alias koleksi pribadi
Seperti Barbossa yang mengklaim Queen Anne's Revenge ... Hooraaaayyyy 

Berikut barang yang saya maksudkan: 2 surat yang ditujukan kepada pihak Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1931 dan surat nikah pada tahun 1947:
Purwokerto 3 Juni 1931 
Terhoendjoeken Padoeka Kangdjeng Toean President Landraad te Karanganjar

Kepada Paduka Yang Mulia Tuan Presiden Landraad di Karanganyar
Dengar hormat
Hamba San Sing Hin te Poerwokerto atas koasa nja saran Kwe Hong Tjhing kleermaker pasar manis Poerwokerto contra pas m. djajeng widjojo. kemaren hamba poelang dari bandjar negara trima soerat Padoeka sebut barang2nja djajeng saerah di beslaag, itoe baik, dan hamba kasih taoe tg 22 mei 1931 m. djajeng widjojo kirim wesel f 10- itoe hamba masoekan titip, besoek kalo m. djajeng bajar itoe wang f 10- bole potong wa nja
Hormat hamba rendah
Poerwokerto 3/6-1931
     

Dengan hormat
Hamba San Sing Hin di Purwokerto yang diberi kuasa oleh Kwe Hong Ching penjahit pasar manis Purwokerto dalam kasus melawan M. Jayeng Wijoyo. Kemarin (saat) hamba pulang dari Banjar Negara (hamba) menerima surat Paduka (yang) menyebutkan barang-barang milik Jayeng sudah disita, itu benar, dan hamba memberitahu (pada) tanggal 22 Mei 1931 M Jayeng Wijoyo mengirim wesel f. 10, (uang) itu hamba titipkan besok jika M. Jayeng membayar f. 10, boleh dipotong dari uang itu
Hormat hamba setinggi-tingginya
Purwokerto 3 Juni 1931   

Purwokerto 6 Juli 1931
Padoeka Kangdjeng Toean Voorzitter Landraad .... Karanganjar

Paduka Yang Mulia Tuan Ketua Landraad .... Karanganyar
Terhoendjoekan
Padoeka Kangdjeng Toean Voorzitter Landraad te Karanganjar
Dengan hormat
Meroedjoek preksa tg 10/6 1931 m. Djajeng Widjojo kirim wesel lagi f. 5 titip pada saia nanti lelang barang2nja m. Djajeng Widjojo wang titipanja dia wang Padoeka Kangdjeng Toean Bole potong, Tjoema sadja itoe beslag han sampe sekarang, kena apa beloen di djalan ken Lelang. Saia moohoon salakas nja Padoeka Kangdjeng Toean voorzitter Landraad Karanganjar soepaia djalan ken idjinan lelang ada nja
mengatoer ken dengan hormat
Saia jang hormat rendah
Pasar manis P-kerto 6/7 1931

Tertujukan
 Paduka Yang Mulia Tuan Ketua Landraad di Karanganyar
Dengan hormat
Menyinggung periksa tanggal 10 Juni 1931, M. Jayeng Wijoyo mengirim wesel lagi f. 5 (kemudian) menitipnya ke saya, (untuk) lelang barang-barang M. Jayeng Wijoyo uang titipannya boleh Paduka Yang Mulia potong. Hanya saja tentang penyitaan hingga sekarang kenapa pelelangan belum dilaksanakan. Saya mohon secepatnya Paduka Yang Mulia Tuan Ketua Landraad Karanganyar agar mengijinkan adanya lelang.
Dengan Hormat
Saya hormat setinggi-tingginya
Pasar Manis P(urwo)kerto 6 Juli 1931  

Seperti yang telah kita baca, kedua surat ini adalah kasus hukum antara Kwee Hong Ching dengan M. Jayeng Wijoyo. Sepertinya Jayeng Wijoyo terikat hutang kepada Kwee Hong Ching dan terpaksa barangnya disita oleh negara. Dan kemungkinan untuk menyelamatkan sisa-sisa barangnya, dia mengirim beberapa uang agar ada barang dia yang bisa ditebus.
Untuk kartu pos pertama bisa dibilang unik karena kartu pos tersebut memakai perangko yang dicetak langsung pada kartu pos:

Apakah perangko tercetak di atas mewakili perangko tipe Vurtheim keluaran kedua ini? Untuk yang 5 sen mungkin dapat dipertanyakan karena desainnya yang berbeda. Namun untuk perangko kedua didalamnya, desain yang dipakai sama dengan tipe Vurtheim keluaran kedua 7 1/2 sen cetakan tahun 1922 ini. Kemungkinan besar, kartu pos ini dibuat sebelum tahun 1922, jika kita melihat bahwa perangko 7 1/2 sen dicetak belakangan disini.

Update* 6 Agustus 2015: Untuk stempel pos juga merupakan keunikan tambahan disini. Karena banyak sekali stempel yang ada karena sang penerima surat sudah pindah. Kita bisa melihat pada foto perangko, jika surat segera dikirimkan sesaat setelah ditulis. Dimana stempel bertanggal 3 Juni 1931 dan menurut angka terakhir pada stempel, kita bisa melihat bahwa kartu pos ini diterima oleh pegawai pada jam 11 siang. Hebatnya lagi, surat sudah sampai di Karanganyar pada hari yang sama pada pukul 6 sore. Mungkin sang penjahit memakai jasa kilat? Klik disini untuk melihat penjelasan waktu pada stempel pos. 

Namun sayang, sang Toean President Landraad sudah tidak berdomisili di Karanganyar lagi. Ini diketahui setelah mungkin saja sang tukang pos mengecek alamat tujuan. Kemudian secepatnya, surat tersebut dikirim dari Karanganyar pada tanggal 4 Juni 1931 kemungkinan jam 10 pagi.

Kemanakah surat itu dikirim? Ironisnya ke Kebumen yang lebih dekat dari Purwokerto. Sekali lagi, surat sampai hanya dalam waktu sehari, pada sore hari. Benar-benar servis kilat i have to admit it 

Sedangkan untuk kartu pos kedua, keunikan terletak pada nama Kwee beserta usaha bisnisnya yaitu penjahit, laundry, dan persewaan mobil yang dicetak di kartu pos. Talking about advertisement. Untuk stempel pos sendiri, tidak ada yang aneh. Pengiriman berselang 1 hari dan sampai pada pukul 6 sore. Kali ini sang penerima kartu pos benar-benar tinggal di Karanganyar.

Sedangkan untuk perangko, sama dengan perangko kartu pos sebelumnya, memakai perangko tipe Vurtheim keluaran kedua 5 sen tahun 1922. Perangko usia 9 tahun dan dipakai kembali...

Untuk koleksi ketiga hanyalah surat nikah pada masa Revolusi Kemerdekaan pada tahun 1947. Nothing Special kecuali materai yang dipakai. Materai 15 sen dan bertuliskan 13 Oktober 1948. Di masa yang sulit sekalipun, pernikahan harus tetap dilangsungkan lool


Usia: <1922 - 1948