Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indië hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Minggu, 16 Oktober 2016

Thomas Cup 1964 - Final

Setelah upacara pembukaan, saatnya kita lihat pertandingan. Sayang tidak semua pertandingan diabadikan disini. Namun satu - satunya pertandingan yang didokumentasi adalah pertandingan final antara Indonesia melawan Denmark!
Banyak orang menjagokan Denmark sebagai favorit pemenang karena anggota kontingennya merajai Kejuaraan All England. Pertandingan yang berlangsung pada tanggal 21 dan 22 Mei 1964 ini dikenang sebagai pertandingan yang tidak biasa. Ini juga tidak terlepas dari dukungan suporter Indonesia yang banyak dituduh mengganggu jalannya pertandingan. Namun ini tidak menjadikan pertandingan final lesu dimana masing - masing kontingen saling mengalahkan dan skor akhir adalah 5 - 4 untuk Indonesia.
Untuk foto yang pertama adalah foto bersama sebelum pertandingan.
Kiri ke kanan:
Tidak diketahui, Knud Aage NielsenJørgen Hammergaard HansenFinn Kobberø, Erland Kops, Henning Borch, ofisial pertandingan - tidak diketahui, Tan Djoe Hok, Tan King Gwan, Ang Tjin Siang, Ferry Sonneville, Tutang Djamaluddin, A.P. Unang (Abdul Patah Unang)

Kurang diketahui kapan foto ini diambil. Apakah pada tanggal 21 atau 22 Mei. Kemungkinan foto diambil pada tanggal 22 Mei, dimana foto pertandingan yang ada saat Ang Tjin Siang bertanding atau pada pertandingan urutan ke - 5.
Untuk berikutnya foto yang sama diambil dari sudut berbeda, kemungkinan dari juru kamera yang berbeda.

Berikutnya adalah penonton dari pihak Indonesia yang tidak sembarangan. Mereka adalah Duta Besar Indonesia untuk Jepang yaitu Bambang Soegeng beserta Menteri Olahraga R. Maladi. Mereka ditemani oleh istri mereka masing - masing.

Foto berikut adalah Ang Tjin Siang yang siap memberi service (pukulan servis).

Pada latar belakang, kita bisa melihat papan skor untuk Denmark masih 0. Ada kemungkinan pertandingan akan dimulai. Saat itu, Ang Tjin Siang bertanding melawan Henning Borch yang berakhir dengan kemenangan Ang Tjin Siang 2 set langsung. 15 - 10 dan 15 - 5.
Untuk foto berikutnya adalah saat Tan Djoe Hok bertanding.

Untuk Tan Djoe Hok sendiri, pada hari itu dia bermain setelah Ang Tjin Siang alias pada pertandingan ke - 6. Berbeda dengan pertandingan pertama dimana dia menang, Tan Djoe Hok mengalami kekalahan melawan Knud Aage Nielsen dengan skor 15 - 11, 14 - 17, dan 9 - 15. Jika anda perhatikan pada latar belakang, piala Thomas Cup terpajang di meja.
Pada foto berikut adalah foto yang sama dengan foto di atas, namun foto di zoom out. Alhasil kita bisa melihat beberapa obyek foto yang tidak terlihat.

Obyek yang tidak terlihat adalah papan skor, dimana Tan Djoe Hok sudah mengalami ketinggalan dengan skor 9 - 10. Dapat diambil kesimpulan, foto diambil saat set ke - 2 atau ke - 3.
4 foto berikut adalah foto bersejarah bagi sejarah olah raga Indonesia dimana Indonesia meraih kemenangan dan mempertahankan Piala Thomas.

Pada foto anda bisa melihat A.P. Unang dikerubuti para suporter Indonesia. Sayang kita tidak bisa melihat pasangan A.P. Unang disini yaitu Tang King Gwan. Pada pertandingan tersebut ganda putra Indonesia tersebut mengalahkan duo Erland Kops dan Henning Borch dengan skor 12 - 15, 15 - 12, dan 15 - 6 pada pertandingan ke - 8. Kita bisa melihat seorang wartawan yang mencoba untuk mengabadikan momen spesial tersebut. Uniknya jika anda perhatikan foto pertama dan foto kedua, papan skor mulai mengalami transformasi dari 14 menuju 15 untuk Indonesia.
Foto berikutnya kemungkinan penyerahan trofi piala Thomas kepada tim Indonesia. Pihak Indonesia diwakili oleh Sukamto Sayidiman.

Untuk foto terakhir mungkin saat pertandingan final sudah selesai atau pertandingan non final. Melihat para ofisial Indonesia yang terlihat ayem, kemungkinan foto ini diambil saat final pertama usai.


Para penonton Jepang sudah pulang dan uniknya Padmo Sumasto terlihat duduk di depan.
Jadi beginilah sedikit momen yang hilang dari Thomas Cup 1964, berikut adalah video dari peristiwa yang sama sebagai perbandingan.

Jujur saja, saya sempat bingung saat upacara penutupan. Upacara tersebut serupa dengan upacara pembukaan. Namun yang menjadi pembeda adalah para kontingen Indonesia tidak memakai jas seperti pada pembukaan.
Setelah foto - foto final ini berikutnya adalah pesta perayaan juara!


Usia: 22 Mei 1964


<--                                                                                                                                                            -->
Ceremony                                                                                                            We're the Champion !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar