Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Jumat, 20 November 2015

Dongeng Koetjing Setiwelan / Puss in Boots - 1922

Sumber
Berikut adalah salah satu koleksi unik yang saya miliki. Meskipun kondisi "LWO" (Laat te Wensen Over / Leave a Lot to be Desired), namun kita masih bisa menyaksikan bagian lain dari koleksi ini yang terlihat megah. Koleksi yang saya maksudkan disini adalah Dongeng Koetjing Setiwelan atau Kucing Setiwelan. Apakah judul ini? Judul ini adalah salah satu dongeng terkenal di Eropa yaitu Puss in Boots. Mungkin sebagian besar dari kita, orang Indonesia, mulai mengenal tokoh dengan nama yang sama dari film animasi Shrek. Namun sebenarnya Puss in Boots sendiri pertama kali muncul pada abad ke-16, karangan seorang Italia bernama Giovanni Fransesco Straparola. Ada juga beberapa versi cerita tersebut muncul pada abad berikutnya dari buah imajinasi Giambattista Basile dan Charles Perrault. 
Giovanni Fransesco Straparola
Sumber
Giambattista Basile
Sumber
Charles Perrault
Sumber

Cerita Puss in Boots sendiri aslinya adalah 3 anak dari seorang penggiling gandum menerima warisan dari ayahnya. Anak tertua mendapatkan tempat penggilingan, anak tengah mendapatkan keledai, sedangkan anak bungsu mendapatkan kucing. Si kucing sendiri akhirnya bertekad untuk memberi nasib yang baik kepada tuannya setelah yang bersangkutan mengabulkan keinginannya mendapatkan sepatu. Si kucing memutuskan untuk menangkap kelinci dan mempersembahkan tangkapannya kepada Raja dan menipu Raja dengan mengatasnamakan pemberian tersebut dari tuannya yaitu Marquis Carabas. Sang kucing tetap memberikan persembahan tersebut hingga beberapa bulan berikutnya.
Si kucing saat
menyuruh penduduk
untuk mengikuti
permintaanya
Sumber
Suatu hari sang Raja memutuskan untuk pergi bersama putrinya. Seketika itu, si kucing meminta tuannya untuk menanggalkan pakaiannya dan menceburkan diri ke sungai yang dilalui oleh rombongan Raja. Saat rombongan mendekat, si kucing berteriak meminta tolong. Raja kemudian memeriksa apa kegaduhan tersebut dan si kucing memberitahu bahwa saat sang Marquis mandi, pakaiannya dicuri. Sang Raja memutuskan untuk menolong Marquis dan memberi pakaian yang indah serta menyuruh dia untuk duduk dengannya, disaat itu juga Sang Putri jatuh cinta kepada Marquis
Si kucing saat bertemu Ogre
Sumber
Sesaat berikutnya, si kucing lari menuju padang di pengujung jalan yang akan dilalui rombongan. Disana dia menyuruh masyarakat di sekitar tempat tersebut untuk memberitahu bahwa tanah tersebut milik Marquis Carabas atau mereka akan dicincang. Si kucing ternyata tidak sengaja menemukan sebuah kastil milik ogre atau monster yang bisa mengubah dirinya menjadi berbagai macam mahluk. Awalnya sang monster mengubah dirinya menjadi seekor singa yang membuat takut si kucing. Pada akhirnya karena kecerdikan si kucing, si monster mengubah dirinya menjadi tikus dan pada akhirnya dimangsa sendiri oleh si kucing. Sang Raja yang akhirnya melewati istana, sangat kagum dengan istana yang sekarang diklaim dimiliki oleh sang Marquis. Akhirnya Sang Raja menikahkan Marquis dengan putrinya. 
Untuk Puss in Boots terjemahan bahasa Jawa sendiri, terdapat beberapa perbedaan.

  1. Kucing dipanggil dengan sebutan "Si Mulus".
  2. Si kucing menangkap kelinci dan burung puyuh kepada Raja. Namun dia tidak memberitahu siapa tuannya saat memberikan persembahan tersebut. Sang Raja memberikan imbalan yaitu koin emas kepada si kucing. Kasus yang sama terjadi dengan persembahan berikutnya. 
  3. Dalam memberikan persembahan kepada Raja, tidak dijelaskan berapa lamanya. Tidak dalam "berbulan-bulan" namun hanya "berhari-hari".
  4. Si kucing baru memperkenalkan siapa tuannya kepada Raja, saat si kucing meminta tolong agar tuannya diselamatkan di sungai.
  5. Sang Putri yang mengajak anak bungsu untuk ikut dengan rombongan setelah anak bungsu diselamatkan dari sungai.
  6. Tidak diterangkan Sang Putri jatuh cinta kepada anak bungsu.
  7. Si kucing tidak memberi ancaman kepada para penduduk saat dia menyuruh mereka untuk memberitahu kepada Raja bahwa tanah tersebut milik tuannya.
  8. Kastil dimiliki oleh tukang sihir.
  9. Semua strategi penipuan si kucing pada akhirnya dibocorkan oleh tuannya sendiri langsung kepada Raja. Setelah mendengar alasan dari si kucing dan terdorong kejujuran si anak bungsu, Raja menikahkan anak bungsu dengan putrinya.

Varian dari Saif
Sumber
Puss in Boots versi bahasa jawa ini dicetak di percetakan Balai Pustaka, yang terletak di Weltevreden, Batavia (Jakarta) pada tahun 1922. Cetakan ini dibuat dalam aksara Jawa, namun ada juga versi bahasa Jawa tetapi menggunakan tulisan latin. Kata setiwelan sendiri ada kemungkinan berasal dari bahasa Belanda stuivel yang juga mempunyai arti "sepatu bot".
Selayaknya buku dongeng untuk anak-anak, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat indah dan imajinatif. Selain itu pula, terdapat pula hiasan-hiasan indah yang menghiasi tiap lembar buku ini. Uniknya untuk versi Jawa ini, ilustrasi yang digunakan berbau arab islam. Dari arsitektur bangunan penuh dengan kubah dan menara, pemandangan lengkap dengan pohon palem, hingga siluet para tokoh manusia yang terlihat memakai sorban, terompah dan saif atau pedang melengkung arab. Ada juga salah satu karakter dinamakan "Usman", yang pasti ini adalah nama Islam. Apakah mungkin penggambaran tokoh-tokoh arab islam ini agar lebih mendekatkan diri dengan para pembaca orang jawa yang mayoritas muslim? Tetap saja penggunaan ilustrasi semacam ini, mengakibatkan para pembaca membayangkan cerita ini adalah bagian dari cerita Alf layla wa-layla atau Seribu Satu Malam. 
Untuk tokoh si kucing sendiri, dalam versi bahasa Jawa ini dia dipanggil dengan panggilan "Si Mulus". Sedangkan untuk tuannya, dipanggil "Wuragil" atau "Si anak bungsu" meskipun nama dia sebenarnya adalah "Usman".
Berikut tokoh-tokoh yang terdapat pada dongeng versi jawa ini:
  • Si Kucing / Si Mulus
  • Usman / Wuragil
  • Sang Prabu (Raja)
  • Sang Putri (Putri)
  • Juru Tenung (Tukang Sihir)
  • Juru Giling (Tukang Penggiling)
  • Pambarep (Anak Sulung)
  • Panggulu (Anak Tengah)
  • Tukang Sepatu
  • Wong Tani (Petani)

Di bawah ini adalah transliterasi cerita dalam bahasa jawa tulisan latin disertai dengan scan buku dongeng  di internet erdapat pula scan kover dan halaman pertama buku dongeng ini yang masih mint:
Kover

Kucing Setiwelan


Ana juru giling duwe anak lanang telu. Ing sawijining dina (tidak terbaca) mahu diundangi kabeh babarengan menyang kamare. Juru giling banjur calutha: “Anak anakku, mulane padha dak kalumpukake,  aku arep duwe kondho perlu marang kowe kabeh”.
Para anak anake mangsuli babarengan: “Inggih, bapak”.
"Lah saiki padha rungokna: iki lo, aku pasrah layang, kang wis dak helak maju lima. Poma wekasku, layang iki aja pisan pisan kobukak yen aku durung mati. Kira ku sadhela hengkas aku ditekakake ing jangji, jalaran wis pikun sarta ringkih. Tanganku wis buyuten dhengkulku wis gathik sikilku wis ora kuwat anggawa awakku.

 Ing layang iki wis dak tamtokake, apaning bakal dadi pandumanmu siji sijine ing sapungkurku. Dadi yen layang iki (tidak terbaca) waca, kowe banjur padha weruh, sapaning oleh wa (tidak terbaca) lingan sing oleh kuldi, utawa sing oleh kucing. Saiki padha prajanji ya temen temen marang aku, ora bakal wani ambukak layang iki sadurung aku mati”.
 Bocah telu mangsuli: “Inggih bapak”, banjur padha ambaleni panggaweyane karo asemu susah.
  Ora antara lawas bapakne mati. Bareng layang dibukak anak telu pisan lagi bale sumurup kang dadi pipintaning bapa. Kang pambarep dipandumi gilingan kang panggulu oleh kuldi, si Wuragil oleh kucing.

  Kang pambarep minarima bae, malah bungah banget calathune: “Gilingan iku wis luwih dening nyukupi dak anggo garan golek pangan”,
   Dene anaking panggulu iya wis marem, pangucape: “Kuldi iku wis nyukupi dak anggo lantaran golek pangan”,
   Balik sing Usman anaking Wuragil ora pisan seneng. Pangesahe: “Oleh kucing mangkene iki arep dianggo apa. Kakangku karo pisan ora kewuhan, sing siji oleh gilingan gandum sijine oleh kuldi. Gek kapriye olehku arep golek pangan”,

  Ing kono Wuragil banjur krungu swara bening cumengkling, iyaiku calathune kucing si Mulus: “Bandara, sampun kuwatos, sampun kakinten kula boten saged pados tedhanipun tiyang kalih, bandara kaliyan kula”.
 Wuragil gumun banget krungu tembunge Mulus mangkono mahu. Kucing ambanjurake calathune: “Manawi bandara purun nyukani kanthong sarta purun numbasaken setiwel sarakit kaliyan tudhung bulu bulu, ing ngriku bandara badhe sumerep piyambak lalabetan kula”.

  Pamikire Wuragil: “Anjaluk kanthong, setiwel tudhung nganggo bulu bulu, arep di anggo apa bae karo si Mulus”,
 Wuragil judheg angrasakake, nanging bareng sumulus pamandenge si Mulus kang nelakake temenemtening ujare, banjur pitaya ing ati. Ciptane: “Becike kudu dakturuti apa sapanjaluke”.
  Antara sadhela si Wuragil calathu: “Mulus ayo tawis padha gliyak galiyak menyang toko”.
  Wuragil karo kucinge anjujug enggoning tukang sepatu dhisik, calathune Wuragil: “Pak ngriki napa honten setiwel cilik, kucing kula butuh setiwel ning kudu sing apik sreg”,

   Tukang sepatu mangsuli sumeh: “Ya ora kleru, Wuragil kowe golek mrene”. Enggone calathu mangkono iku karo milihake setiwel banjur dicobakake. Wasana hangguyu guyu semuhumuk, ujar: “Ta, iki lo, Wuragil delengen ra sreg banget”,
    Wuragil wis condhong, apa reganing setiwel dibayari.
   Ana ing liya toko si Wuragil tuku kanthong lan tudhung nganggo bulu bulu. Dadi sapanjaluke Mulus wis dituruti kabeh.
    Wuragil wis lega atine, mung kari kepengin weruh, si Mulus banjur arep apa bae.
    Ananging Mulus dhewe wis ora kewuhan, nganggo setiwel nganggo tudhung bulu bulu, nuli metu.
     Ara, arep menyang ngendi.
     Jebul arep golek truwelu. Kanthonge dianggo pasangan di iseni wortel kanggo jontrot awit iku karemaning truwelu. Cangkemaning kanthong diengakake omba, nanging wis dikolori kenur dawa, dudutan kanggoning seti, yen ana truwelu mlebu. Mulus banjur mathengkrus nunggoni saka kadohan karo nyekeli adudutan.

    Nyata. Ora antara suwe kucing kang setiwelan mahu wis oleh truwelu. Apa banjur dimongsa. Ora. Mung dicekel kahaturake Sang Prabu.
     Nalika samana Sri Prabu lagi lenggah anggedhangkrang ana ing dhampar. Para punggawa akeh kang padha sowan ananging Mulus ora praduli marang para luhur mahu, jalaran tekane mung arep sowan Sang Prabu piyambak.
     Mulus bukak tudhung. Satekane ing ngarsa dalem kurmat tumungkul banjur matur: “Suwun nuwun sewu sewu lepat nyuwun pangapunten dalem, keparenga kawula ngaturaken pisungsung sapele hawarna truwelu punika”.
     “Wah”, Sang Prabu rena banget panggalihe. Pangandikane: “Dak trima banget kowe, kucing. Enya dak preseni sadinar”.

     Sapira bungahe si Mulus tompa dhuwit sahukon was wah, hukon ... emas, Mulus matur bawet ing panuwune, kurmat tumungkul banjur enggal enggali, menehake dinar mahu marang bandarane. Wuragil wis mesthi bae seneng banget.
     Antara dina si Mulus menyang pasawahan ana ing kono bisa oleh pelung sawatara, dipasangi nganggo kanthonge. Oleh olehane gagancangan di aturake Sang Prabu maneh.
      Sang Prabu iya suka banget ora beda karo dhek di aturi truwelu. Saben manuk siji dibayari sadinar. Oleh olehane dhuwit si Mulus uga banjur dipasrahake marang Wuragil maneh.
     Wuragil wis mangerti, yen kucinge pancen sugih akal, pamikire: “Sarehne wis duwe kucing kaya mangkono, wis ora perlu aku sumelang anggonku golek pangan”,
     Pamikire Wuragil iku pancen bener banget, maragatena bae terus saking bakal kelakon iki.
     Ing sawijining dina kucing kang setiwelan mawarta, yen Sang Prabu hukrungu karsa tindak papara karo putrane putri. Si kucing enggal nemoni bandarane sarta calutha: “Bandara mongga sami dhateng sagaran kaliyan kula. Mangke manawi Sang Prabu langkung, enggal ambyura. Manawi panjenengan angge garembag kula, mesthi dados tiyang sugih singgih”.

     Wuragil ora ngerti sing dadi karepe Mulus ewa dene hiya manut bae. Bareng gajah titihane Sang Prabu wis katon Wuragil terus cucul sandhangan byur, anjegur ing sagaran.
       Ing nalika iku huga si Mulus bengok bengok: “Tulung, tulung. Dipati Usman kelelep, tulung, tulung, bandara kula pejah kelem”,
    Para abdi lan sarati padha krungu pambengoke Mulus ma (tidak terbaca), dalasan Sang Prabu piyambak lan Sang Putri iya midhanget, Sang Prabu enggal dhawuh ngendheg titihane gajah, tumenga semu kaget saka ing jempan. Swarane kang anjaluk tulung wela wela: “Tulung, tulung. Dipati Usman kelelep”,

    Pangandikane Sang Prabu: “Elo, lah teka kucing setiwelan sing ngaturake truwelu lan pelung kahe”. Ngandi kamangkono iku karo tedhak saka ing gajah.
      Dhawuhe Sang Prabu: “Ayo, enggal Dipati Usman tulungana, mundhak selak kelem”,
    Abdi papat kang andherekake banjur jejer cekel cekelan tangan, Mulus uga milu milu tulung, anggujengi klambine abdi kang ana ing buri dhewe.
   Abdi kang ana ing ngarep dhewe nyandhak tangane Wuragil nuli ditarik babarengan,
     Bareng Wuragil wis mentas thingak thinguk anggoleki sandhangane ora ana. Batine Wuragil: “Elo, sandhanganku ana (tidak terbaca) ngendi”.
     Si Mulus uga ethok ethoke ora weruh, mongka sajatine di dhelikake dhewe ana ing glagahan, sambate: “O, mesakake temen bandaraku, salah pangagemane bae saiki ilang”.

      Sang Prabu tuwuh panggalihe: “Durung suwe kucing iku bisa gawe renaning panggalihku, ngaturi truwelu lan pelung. Bok aku dak genti gawe bungah marang dheweke sarta bandarane”. Ing sanalika sang Prabu utusan abdi menyang kadhaton mundhut pangageman arep kaparingake marang Wuragil.
   Abdi kang kautus gagancangan lakune, ora antara suwe bali anggawa sandhangan bregas sapangadeg,
     Wuragil enggal dandan, ing sarampunge banjur sowan nyaket ing ngarsane Sang Prabu lan Sang Putri, kurmat tumungkul sarta matur nuwun ing paringe pitulungan lan panganggo.
        Pangandikane Sang Prabu: “Iya dak tarima panuwunmu, Dipati Usman”,
      Sang Putri pirsa marang Wuragil nganggo sandhangan bregas amantesi, nuli nari apa gelem andhereknake papara.
        Kaya apa bungahe si Wuragil bareng Sang Prabu lan Sang Putri malebet ing je (tidak terbaca) na, Wuragil iya pa (tidak terbaca) dherekake malebu.
     Si Mulus ngalirik bandarane karo ngejepi aweh sasmita: “Lah, manaten punika sampun keleresan nanging dereng sampurna”.
       Gajah wiwit lumaku, nanging si Mulus wis andhisiki lumayu sipat kuping, nemoni wong telu kang lagi anggarap palemahan, calathune kucing: “Mengko Sang Prabu bakal miyos ing kene. Yen andangu, tanah iki duweke sapa, padha mangsulana, yen tanahe Dipati Usman”,

         Wong telu padha mangsuli: “Iya, becik”,
     Mulus nerusake lakune, ketemu wong tani telu lan bocah siji lagi bikut ngeneni gandum ing sawah. Mulus calathu: “Mengko Sang Prabu arep tedhak mra (tidak terbaca) pan didangu, pasawahan iki duweke sapa, mangsulana yen duweke Dipati Usman”, wong tani mangsuli prayoga.
     Bareng Sang Prabu rawuh, andangu marang wong telu kang lagi padha nyambut gawe, sapa kang duwe tanah ing kono. Sarawuhe ing enggone wong kang lagi ngeneni gandum Sang Prabu uga andangu, sapa kang duwe pasawahan, wong kang padha nyambut gawe lan ngeneni matur, yen duweke Dipati Usman, panggalihe Sang Prabu: “We, lah, yen mangkono Adipati Usman iku sugih banget”.
       Nalika iku Mulus wis bablas menyang omah gedhe kaya kadhaton, dene kang manggon ing kono juru tenung. Gawene anjaili uwong, perlune mung arep anggedhekake wadhuke dhewe.
       Mulus nabuh lonceng ing sacedhaking regol (tidak terbaca) nuli takon marang batur kang mengani kori,  a (tidak terbaca) oleh ketemu karo juru tenung.

       Kucing dilebokake. Ing kono juru tenung lagi ambeneri mangan, Mulus kurmat andhingkluk, juru tenung jebul muring, manthelengi marang si Mulus, upama kewetuwa calathune: “Teka kowe wani wani ngregoni enggonku mangan”,
          Mulus ethok ethok ora ngerti dinepsoni, calathune ngasih asih: “Dhuh, kyai juru tenung, sampun dados panggalih, dene kula ngriribedi. Kerep kemawon kula mireng pawartos bilih panjengengan saget malih sawarnining kewan, sarehne keleresan kula nglangkungi dalem panjengengan, eman sanget yen ta kula boten mampir nyatakaken, bok cobi, kula aturi malih singa barong. Kula teka kepengin sanget badhe sumerep.

        Juru tenung mongkog banget kena pangonggronge si kucing, thukul pikirane arep mamerake kabisane. Ing sanalika jleg dadi singa..
       Mulus kaget sarta wedi banget jalaran singa barong ngamah amah gero gero anggigilani. Banjur ngrerepa, supaya juru tenung bali dadi manungsa maneh. Juru tenung nuruti, pulih dadi uwong.
    Wusana kucing duwe uni: “Punapa kintenipun boten kangelan manawi panjenengan badhe malih tikus”,

     Atine juru tenung kaya diunggar. Tembunge: “Mungguhing aku ora ana barang kang kangelan”, ing sanalika juru tenung dadi tikus nanging banjur ditubruk si Mulus dimongsa bebas.
       Graitane Mulus: “Lah, mangkono. Juru tenung iya wis rampung”.
       Let sedhela gajah titihane Sang Prabu lan Sang Putri wis katon saka kadohan.

      Mulus ngenteni tekaning gajah ing ngarep regol ing gedhong suyasa, banjur matur marang Sang Prabu: “Gusti, punika dalemipun Adipati Usman, keparenga kawula gadhah panuwun ing ngarsa dalem wontena karsa dalem lan Sang Putri kereb ing sawatawis sarta dhahar ing ngriki kaliyan bandara kawula.
    Sang Prabu mangsuli pangandika: “Iya, prayoga”. Banjur tedhak saka ing titihan kadherekake Sang Putri lan si Wuragil.
    Pangunandikane Sang Prabu mangkono iku pancen bener. Gedhong mahu dhasar bagus temenan,

      Sang Prabu lan Sang Putri tindak malebu kahiringake si Wuragil dene Mulus ing ngarep dadi pangirid jujuge ing kamar bojana.
    Bareng Sang Prabu pirsa rampadan kang wis cumawis ing meja, kewiyos gumune: “E, dene teka kabeh sarwa hadi. Dipati Usman mara ayo padha ngombe babarengan amuji kaslametanmu, awit satemene aku rumasa kepotangan panarima dening panyunyubamu”.

    Wuragil nyandhak gelas banjur ngadeg nanging wusanane kewuhan, ature marang Sang Prabu: “Kawuningane, Sang Prabu, menggah sajatosipun kawula punika sanes Adipati, lan supaya sapunika inggih sanes gadhahan kawula”.
      Sang Prabu kaget pandangune: “Elo, kapriye. Dadi apa kowe niyat ngapusi”.

      Mulus nyela matur: “Kawula nyuwun duka dalem Gusti. Ingkang nandukaken apus punika sanes bandara kawula, nanging kawula piyambak, namung kemawon boten pusan pusan kawula anggadhahi sedya awon”,
    Sang Prabu andangu: “Yen mangkono, mungguhing satemene apa kang dadi kaniyataning atimu”.
     Mulus nuli nyaritakake, yen bandarane iku anak juru giling, ora oleh tinggalan barang barang kejabane kucing. Beda karo kakangne loro, kang siji tompa warisan gilingan sijine kuldi. Saka welase kucing marang bandarane, nganti direwangi ngapusi Sang Prabu lan Sang Putri.

   Sang Prabu tumungkul anjangkerut palarapane, marga ana kang digalih. Ananging ora suwe andangak lan padhang pasuryane. Sang Putri dicandhak astane, sarta Sang Prabu nulingan dika marang wuragil: “Wruh anamu, dilati, aku wis sumurup yen saliramu wong utama, lan aku mangerti, yen anaku tresna marang kang salira. Kang iku ninipu tridak tarimakake  dadi ya jodhomu”.
   Saking bungahe Usman sahantara suwene nganti ora bisa ngucap mung tumungkul (tidak terbaca) tandhaning panuwun samono uga si Mulus,

   Sawuse padhang atine, Usman bisa metu tembunge kanggo nglahirake panuwune marang Sang Prabu bumungguh ing kadarmane.
     Ora antara lawasi Usman sida kadhaupake lan Sang Putri. Ing sabanjure runtut inggone jojodhowan sempulur tinunggu ing kabegjan ing suyasa kadhaton mahu.
      Si Mulus kucing kang setya, lan tari ngawula ing bandara sakarone. 

Fin

Meskipun versi ini berbeda dengan aslinya, entah ini adalah versi tone down atau mungkin memakai versi negara atau pengarang lain, namun cerita Puss in Boots versi jawa ini tetaplah sangat menarik untuk dibaca. Untuk masa itu dapat dibilang, dongeng ini dalam unsur hiburan bisa menyaingi dongeng Jawa lainnya seperti dongeng si kancil. Apalagi dengan dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat menarik membuat imajinasi sang pembaca (termasuk orang dewasa sekalipun) bisa ikut bermain.


Usia: 1922

Tidak ada komentar:

Posting Komentar