Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Kamis, 03 Desember 2015

Nitour GOEDE REIS !


Lambang yang keren bukan? Apakah anda pernah mendengar nama Nitour disini ? Bukan, bukan penyelenggara haji dan juga bukan vitamin












Nitour atau Nederlandsche Indische Touristen Bureau adalah suatu travel agent yang berkecimpung dalam pariwisata pada masa Hindia Belanda. Dalam sejarah, Nitour sendiri awalnya bernama Lislind atau Lissone Lindeman dan berdiri pada tahun 1926 di Batavia. Meskipun begitu, Lislind sendiri berpusat di negeri Belanda. 2 tahun kemudian, Lislind berubah nama menjadi Nitour dan saat itu Nitour merupakan bagian dari KNILM atau Maskapai Penerbangan Hindia Belanda. Pada masa itu pula, pariwisata didominasi oleh bangsa Eropa saja. Meskipun kunjungan wisatawan sangat terbatas, namun sudah terdapat akomodasi penginapan seperti losmen dan hotel. Tempat-tempat tersebut menawarkan para wisatawan tempat untuk menginap.
Setelah penjelasan tersebut. mari kita cek salah satu saksi bisu dari Nitour yang saya miliki ini:

Terlihat tidak biasa bukan? Jika anda bertanya-tanya, apakah koleksi ini? Koleksi ini adalah sebuah amplop yang dikeluarkan oleh Nitour. Apakah kegunaannya? Jawabannya akan saya berikan nanti.
Hal pertama yang kita lihat dari amplop ini adalah logo Nitour yang tergolong megah. Selain itu pula nama Nitour beserta kepanjangannya juga terpampang disitu pula. Ada satu hal yang mungkin menggelitik anda. Iya benar sekali, tulisan Goede Reis ! dalam ukuran besar sekali. Jika anda penasaran, Goede Reis ! sendiri berarti harfiah "Perjalanan Bagus !" dan lebih tepatnya "Perjalanan yang Memuaskan !" atau dalam bahasa inggrisnya Good Trip !. Contoh dari sebuah promosi yang sangat efektif bagi travel agent. 
Tulisan aan: adalah "kepada", karena tidak diisi kemungkinan amplop ini diserahkan sendiri kepada sang penerima. 
Specificatie adalah deskripsi. Disini anda juga dapat menyaksikan tulisan 
"2 - 2e kl. Solo via Bandoeng fl. 31.20 
ddo. 7/11-1940 
Vertrek Koningsplein 10.04 v.m.". 
Semua ini berarti Kelas 2 sebanyak 2 buah, Solo melalui Bandung 31,20 gulden. Tanggal 7 November 1940, berangkat Koningsplein jam 10.04 pagi. Anda sudah mengerti maksud dari arti tersebut? Iyap, tulisan tersebut adalah deskripsi tiket kereta api dan amplop Nitour ini adalah amplop yang membungkusnya. Tiket kelas 2 sebanyak 2 buah, berangkat dari Stasiun Koningsplein pada jam 10.04 pagi menuju Solo melalui Bandung. Harga sebesar 31,20 gulden. Mungkin anda semua penasaran Stasiun Koningsplein dimana, jawabannya adalah Stasiun Gambir di Jakarta. 
Dari semua penjelasan tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua wisatawan kita berangkat dari Batavia menuju Bandung pada awalnya. Setelah mencapai Stasiun Hall Bandoeng dan melakukan transit disana, perjalanan mereka dilanjutkan ke Stasiun Balapan di Solo.
Stasiun Koningsplein pada tahun 1939
Sumber

Stasiun Hall Bandoeng pada tahun 1930
Sumber

Stasiun Balapan
Sumber

Setelah bagian depan amplop, mari kita lihat bagian belakang amplop shall we:

Sangat menarik melihat tulisan Bij volgende reis- of vacantieplannen ! ! dicetak dua kali. Yaitu dibibir amplop dan diamplop itu sendiri, tepat dibagian bawah bibir amplop. Ini membuktikan Nitour sangat memperhatikan promosi

Untuk bagian belakang amplop sendiri, terdapat banyak penjelasan dalam bahasa Belanda. Semua tulisan tersebut berarti:
Untuk perjalanan atau rencana wisata berikutnya ! !
Mengapa menulis puluhan surat sendiri jika anda bisa meminta kami untuk memberikan dokumentasi lengkap tentang harga dan diskon dari lebih dari 200 hotel di Hindia.
Kami memesannya tanpa biaya !
Tulisan berikutnya hanyalah Nitour beserta alamat kantor di 3 kota.
Di Medan yaitu di Hotel De Boer dengan nomor telepon 2080. Hotel ini adalah hotel terkenal di Medan yang berdiri pada tahun 1898 dan sempat disinggahi oleh Raja Belgia Leopold II dan Mata Hari.
Hotel pada tahun 1936
Sumber

Sedangkan untuk di Batavia, kantor terletak di Batavia Centrum atau Jakarta Pusat. Tepatnya di Rijswijkstraat Nomor 2 dengan nomor telepon Wl 3000. Jika merunut dari sumber yang saya cantumkan pada awal tulisan, Rijswijkstraat sekarang adalah jalan Majapahit.
Untuk cabang ketiga berada di Surabaya, tepatnya di Toendjoengan Nomor 71 dengan nomor telpon Zuid 3000. Tidak ada yang berubah dari nama jalan di Surabaya, yaitu jalan Tunjungan. Namun hal yang menarik terdapat pada nomor bangunan. Jika nomor bangunan pada masa kolonial tetap sama dengan nomor sekarang, bekas bangunan kantor Nitour sudah berubah menjadi bagian Hotel Majapahit. Hotel yang sama saat terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda pada tahun 1945.
Ada satu hal unik terdapat pada foto tahun 1953 ini
Sumber

Jika anda perhatikan pada bangunan Oranje Hotel atau nama lama Hotel Majapahit, pada bagian bawah kiri terdapat tulisan seperti tour Indonesia. Tulisan tersebut uniknya menjadi bagian dari bangunan travel agent. Apakah tulisan tour Indonesia disini adalah Nitour Indonesia ???
Untuk tulisan terakhir terdapat alamat untuk mengirim telegram ke Nitour. Dibawah adalah contoh telegram sejaman.
Mungkin saat pelanggan akan memesan tiket kepada Nitour melalui telegram, hal pertama yang mungkin diisi oleh juru telegraf disini adalah menulis di bagian ini: 
Nitour
 
Batavia-Centrum
  
(atau Batavia-Cent.)
 

Langkah berikutnya bisa dicek pada penjelasan dibawah
Contoh telegram ini berasal dari post ini

Update 22 Desember 2015:
Setelah membaca beberapa koleksi lama saya, saya mendapatkan informasi unik dari Indische Cultuur-Almanak 1939. Di dalamnya terdapat informasi tentang kode telegram untuk hotel-hotel di Jawa.

Seperti pada gambar, kode-kode tersebut adalah:

  • Memesan sebuah kamar kapasitas satu orang = alba
  • Memesan sebuah kamar kapasitas dua orang = album
  • Memesan dua kamar kapasitas satu orang = babel
  • Memesan dua kamar kapasitas dua orang = badine
  • Memesan sebuah kamar kapasitas satu orang dan sebuah kamar kapasitas dua orang = bazaar
  • Memesan dua kamar kapasitas satu orang dan sebuah kamar kapasitas dua orang = cable
  • Memesan tiga buah kamar kapasitas satu orang = cabin
  • Memesan sebuah kamar kapasitas satu orang dan dua buah kamar kapasitas dua orang = cadeau
  • Memesan tiga buah kamar kapasitas dua orang = crapaud
  • Memesan empat buah kamar kapasitas satu orang = daisy
  • Saya / kami membatalkan pesanan kamar = cancel
  • Saya / kami datang satu hari lebih cepat = dearly
  • Saya / kami datang dua hari lebih cepat = tweak
  • Saya / kami datang satu hari lebih lambat = relate
  • Saya / kami datang dua hari lebih lambat = lately
Contoh dari pemakaian kode telegram tersebut adalah
Hotel Papandajan
"Hotel Papandajan Garoet alba Woensdag"
Ini berarti:
"Memesan sebuah kamar kapasitas satu orang untuk hari Rabu"
Sedangkan jika akan memberitahu kedatangan pada hari Jumat dan bukannya Rabu, maka pesan telegram menjadi:
"Hotel Papandajan Garoet Lately"

Selain semua informasi diatas, kita bisa melihat bahwa amplop Nitour tersebut dicetak di Koningsplein.
Meskipun terlihat biasa yaitu sebuah amplop pembungkus tiket kereta api, namun amplop ini menyimpan banyak nilai historis. Dari deskripsi tiket kereta, cara Nitour mempromosikan mereka kepada masyarakat, serta cabang-cabang kantor Nitour yang rupanya juga menyimpan fakta yang menarik pula. Lebih menariknya lagi, koleksi ini tertanggal saat Perang Dunia II sudah berkecamuk dan tepatnya saat negeri Belanda sudah diokupasi oleh Jerman. Meski dalam keadaan genting seperti ini-pun masih terdapat orang-orang yang ingin melupakan kejenuhan duniawi-nya dan memilih untuk berlibur ke tempat yang jauh. Screw the war, we just want to vacation !


Usia: 1940

Selasa, 01 Desember 2015

Selamat Tinggal Toean - Toean

Bukan, ini bukan saya bermaksud untuk meninggalkan blog ini. lol
Tetapi kata tersebut adalah secuil dari koleksi yang mengawali bulan Desember ini. Pidato selamat tinggal pada masa Jepang:
Toean-toean jang terhormat!

Saja memberitahoe, bahwa saja mendapat prentah dari Gunsei Kan Bu, di Djakarta, pada waktoe ini saja dipindah dan akan bekerdja bersama-sama dengan Toean2 di Nitto Kogyo Kantor Besar Soerabaja dan Madioen, bahagian Djawatan Kehoetanan.
Selama saja bekerja satoe tahoen di sini, tida ada halangan satoepoen apa dan saja merasa senang sekali. Saja harap moedah-moedahan toean2 dan saudara2 semoeanja madjoelah dan giat bekerdja dan selamat tinggal. 
Sekian!

(Transliterasi ke bahasa Indonesia modern: 
Tuan-tuan yang terhormat!

Saya memberitahukan, bahwa saya mendapat perintah dari Gunsei Kan Bu, di Jakarta. Saat ini saya dipindah dan akan bekerja bersama dengan tuan-tuan di Nitto Kogyo Markas Besar Surabaya dan Madiun, pada bagian Jawatan Kehutanan.

Selama saya bekerja setahun di sini, tidak ada kesulitan apapun dan saya merasa senang sekali. Saya harap mudah-mudahan tuan-tuan dan saudara-saudara semuanya semakin maju dan giat bekerja dan selamat tinggal.

Sekian!)


Anda sudah membacanya bukan? Ya, surat ini adalah pidato dari seorang pegawai yang dipindah ke Nitto Kogyo Markas Besar Surabaya-Madiun di jawatan kehutanan. Saya kurang tahu pasti apa nitto kogyo disini, namun ada kemungkinan nitto kogyo adalah sebuah perusahaan atau perkumpulan milik Jepang. Juga seperti yang anda lihat juga, perintah pemindahan dilakukan oleh gunsei kanbu atau Markas Besar Pemerintahan Militer Jepang. Apa mungkin pegawai yang dipindah disini adalah pegawai tinggi?
Sayang kertas ini tidak bertahun namun dari sini kita bisa mengetahui bagaimana sekelumit kecil kehidupan pada masa Jepang melalui mata seorang pegawai. Dia merasa puas dengan tempat kerja lamanya meskipun hanya setahun bekerja. Dan dia meninggalkan wejangan kepada rekan-rekan lamanya untuk tetap rajin bekerja. Semangat Nippon terasa sekali disini.


*Edit 22 Januari 2016:
Ada beberapa informasi yang bisa kita simak tentang tempat kerja baru sang pegawai ini. 
Sang pegawai bergabung dengan Ringyo Tyuoo Zimusyoo (RTZ - Kepala Jawatan Kehutanan) yang berkantor pusat di Jakarta dan satu lagi di Bogor dengan sebutan Honbu.
Untuk RTZ sendiri, pada bulan Juni 1942 - Oktober 1943 berada dibawah departemen Sangyobu (departemen ekonomi). Pada November 1943 RTZ bergabung dengan departemen Zoosenkyoku (perkapalan), karena departemen bersangkutan membutuhkan banyak sekali kayu. Sedangkan pada Juli 1945, RTZ dimasukkan dalam departemen Gunzyuseizanbu atau departemen produksi kebutuhan perang hingga 15 Agustus 1945.
Berikutnya adalah kalimat nitto kogyo yang disebut oleh sang pegawai. Tidak ada kalimat tersebut pada hierarki RTZ, melainkan dia masuk dalam Dai Si Eirinkyoku (daerah inspeksi IV) yang berpusat di Surabaya dan salah satu daerahnya atau Eirinsyo (daerah hutan) adalah Madiun.
Untuk tempat kerja barunya, dia mungkin menjadi salah satu dari 3 golongan pegawai RTZ berikut ini dimana tingkatan ini mulai berlaku pada September 1943:
I: golongan pegawai tinggi yang mempunyai 5 tingkatan yaitu Yonto, Santo, Nitto, Itto, dan Koto Gyzuzukan.
II: golongan pegawai menengah, yang mempunyai tiga tingkatan, yaitu Santo, Nitto dan Itto Gyzuzukan.
III: golongan pegawai rendah terdiri dari 3 tingkatan yaitu Santo, Nitto dan Itto Syoki.
Ketiga golongan tersebut ditentukan dari tingkat pendidikan.
Di lapangan sendiri, nantinya sang penulis akan mendapatkan tanda pengenal pada seragamnya. Tanda pengenal ini bertujuan membedakan tiga tingkatan golongan diatas. Penning (tanda pengenal) warna putih untuk pegawai biasa, biru untuk pegawai rendah, merah pegawai menengah dan kuning untuk pegawai tinggi. Pedang samurai atau mungkin gunto seperti yang dipakai oleh tentara Jepang dapat dipakai sebagai tanda tingkatan pegawai.
Sekedar tambahan saja, jika sang penulis termasuk pegawai tinggi dan mungkin dia diundang pertemuan di Jakarta atau Bogor, setiap habis pertemuan ditutup dengan pesta makan minum bersama. Dalam pesta akan disajikan ikan kali atau ikan laut mentah dengan jahe sebagai kuliner orang Jepang saat itu. Meskipun berdasarkan kesaksian, untuk pegawai Indonesia mungkin tidaklah cocok. Cara makan dianjurkan memakai 2 batang sumpit yang juga membuat pegawai Indonesia kesusahan. Pesta juga harus diikuti oleh pesta sake. Sesudah makan dan minum dilanjutkan dengan pesta menyanyi hingga mabuk semua. Jika sudah mabuk, pesta bisa dianggap selesai.
Informasi dari Memoires Het Boswezen in Nederlandsch Oost Indie Ringyo Tyuoo Zimusyo Dai Nippon Jawatan Kehutanan Republik Indonesia, dari: 1 Juli 1897 sampai akhir 1953, Jilid: II, Cetakan Pertama, Oleh: R. Soepardi.


Usia: 1942 - 1945