Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Minggu, 06 November 2016

Medali Javasche Motor Club

Untuk post ini bisa dibilang berbeda. Jika sebelumnya saya menampilkan medali koleksi saya beserta artikel dari sebuah majalah lama seperti post Bintang Sewindu APRI, kali ini saya tidak mempunyai koleksinya baik itu medali maupun majalahnya. Artikel yang saya tampilkan disini adalah dari majalah milik teman saya yaitu muara-buku. Majalah yang dimaksudkan disini adalah majalah Pandji Poestaka. Majalah yang diterbitkan oleh penerbit terkenal Balai Pustaka ini pertama kali terbit pada tahun 1923. Usia majalah ini sendiri termasuk lama yaitu hingga tahun 1945 mereka diterbitkan. Untuk koleksi teman saya disini adalah dari tahun 1926. Sesuai dengan judul, salah satu artikel yang paling menarik untuk di share disini adalah medali yang dikeluarkan oleh Javasche Motor Club. Sekedar informasi saja, artikel pada post ini berasal dari 3 majalah Pandji Poestaka yang berbeda yaitu nomor 12 tanggal 12 Februari 1926, nomor 16 tanggal 26 Februari 1926, dan nomor 18 tanggal 5 Maret 1926.
Javasche Motor Club / Java Motor Club (J.M.C.) atau yang mempunyai nama lengkap Koninklijke Vereeniging Java Motor Club sendiri adalah asosiasi pengendara bermotor Hindia Belanda. Menurut koran De Sumatra Post tanggal 20 Januari 1911, J.M.C. awalnya bernama Soerabajasche Autoclub / Soerabajasche Motorclub. Klub tersebut berdiri di Surabaya pada 27 Maret 1906 yang diresmikan melalui keputusan pemerintah Gouvernements Besluit tanggal 27 Maret 1906. Nantinya pada medio bulan September ditahun yang sama, klub menerbitkan majalah mereka yaitu De Indische Auto.
Artikel koran De Sumatra Post tanggal 20 Januari 1911 yang memuat tentang reorganisasi J.M.C. yang salah satunya menyebut asal muasal J.M.C. dari Soerabajasche Autoclub.
Koleksi Koninklijke Bibliotheek

Artikel koran Het Nieuws van den Dag tanggal 29 Maret 1906. Disebutkan klub Soerabajasche Motorclub diresmikan pada 27 Maret 1906.
Koleksi Koninklijke Bibliotheek

Koran Soerabaijasch Handelsblad 17 September 1906 disini menyebut majalah De Indische Auto sebagai majalah milik Soerabajasche Motorclub.
Majalah tersebut disebut memuat AD/ART klub.
Koleksi Koninklijke Bibliotheek


Dalam perjalanannya, J.M.C. berganti nama menjadi Indische Motor Club (I.M.C.), Indonesische Motor Club dan sekarang sebagai Ikatan Motor Indonesia (I.M.I.). J.M.C. sendiri dalam sejarahnya membuat banyak pernik - pernik, entah itu peta, buku, pin, hingga yang terlupakan yaitu medali dibawah ini.

Sumber: Olx.com


Medali diatas adalah medali yang diberikan kepada para supir yang mengemudikan kendaraan dengan selamat, minimal selama 10 tahun. Bentuk medali sendiri sekilas serupa dengan medali Militaire Willems Orde dan Orde van Nederlands Leeuw. Uniknya di bagian tengah medali terdapat relief gambar mobil. Terdapat pula monogram "M". Ada kemungkinan monogram ini berarti "Motor". Selain itu pula terdapat tulisan "Voor 10 Jaren Dienst" atau artinya "Untuk Pengabdian 10 Tahun". 
Seperti pada gambar, medali ini juga mempunyai pita atau ribbon. Untuk mengetahui warna ribbon, kita bisa bandingkan dengan foto dibawah ini.
Sumber

Jika anda perhatikan, warna ribbon serupa dengan warna ribbon medali paling kanan. Medali yang dimaksudkan disini adalah Onderscheidingsteeken voor Langdurige Dienst als Officier atau medali pengabdian dinas untuk perwira militer Belanda.
Sumber: Pinterest

Namun jika kita perhatikan, warna ribbon terlihat terbalik. Jadi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa warna ribbon untuk medali J.M.C. adalah biru nassau, putih, dan oranye. 
Pemberian medali juga disertakan dengan sebuah piagam laiknya medali pada umumnya.
Kurang diketahui ada berapa kelas medali ini eksis. Saat mencari tambahan informasi, saya menemukan medali dibawah ini dijual di sebuah situs jual - beli.
Sumber

Anda lihat sendiri, medali tersebut adalah medali kelas 5 tahun. Namun medali tersebut dibuat saat organisasi sudah berganti nama menjadi I.M.C.. Ada kemungkinan awalnya medali hanya diperuntukkan untuk supir yang bekerja dengan selamat selama 10 tahun. Namun dalam perkembangannya, kemungkinan saat J.M.C. berubah nama menjadi I.M.C., medali ditambah kelasnya dengan kelas 5 tahun ini. Ada kemungkinan pula terdapat kelas lainnya seperti medali Onderscheidingsteeken voor Langdurige Dienst als Officier.
Setelah keterangan medali, mari kita lihat beberapa penerima medali yang unik ini. Yang pertama adalah Soerowidjojo.


Dia sudah bekerja sebagai supir selama 20 tahun untuk J. van Koetsveld, yang dulunya pengurus pabrik gula. 
Untuk orang kedua, dia adalah supir resmi keraton Kasunanan Surakarta.

Madaroem namanya. Dia bekerja sebagai sopir pribadi Pakubuwono X selama 18 tahun atau sejak tahun 1908. Perhatikan sepatu kets dia yang kurang cocok dengan seragam yang dia pakai. Mungkin dia lebih memilih kenyamanan dibanding penampilan.
Untuk supir dalam keraton, menurut almanak Narpowandowo tahun 1930 mereka masuk dalam bagian Gitas Wandawa atau bagian "motor". Diketuai oleh Raden Tumenggung Widaningrat. Jabatan tetua sekaligus "sopir" dipegang oleh orang Belanda bernama W. H. Huysmans.
Penerima ketiga adalah Moedassim.

Disini dia sudah bekerja selama 20 tahun di Perusahaan Perkebunan "Pondok Gedeh" di Cigombong, Bogor.
Orang keempat adalah Sijan.

Sijan disini bekerja selama 10 tahun untuk L. Leefers. Pengurus pabrik gula "Banjaratma" di Brebes. Perhatikan pemakaian medali, dimana posisi penempatan medali dia berbeda dengan penerima medali lainnya.
Berikutnya adalah Djojoprajitno atau yang bergelar Raden Wagio.

16 tahun dia sudah bekerja di Handelsvereeniging Amsterdam.
Orang keenam adalah Mas Ngabehi Wiromaroeto.

Serupa dengan Madaroem, dia bekerja di kota Solo. Hanya saja dia bekerja di Rijksauto Dienst selama 17 tahun. Kurang diketahui apakah dia bekerja untuk Kasunanan, Mangkunegara, ataukah untuk Pemerintah Belanda.
Untuk penerima terakhir disini, dia bukanlah orang sembarangan.

Mohamad Djini disini sudah bekerja selama 15 tahun untuk N.V. Automobiel Import Maatschappij cabang F.I.A.T.. Ya, pabrik mobil Italia yang terkenal dari kota Turin itu. Djini disini mendapatkan medali di tahun yang sama saat Juventus mempersembahkan gelar pertamanya untuk pemilik baru mereka. Yaitu Edoardo Agnelli yang juga pemilik F.I.A.T..
Uniknya bagi para penerima medali, bisa diadakan upacara selamatan. Seperti yang terjadi oleh Sastro.
Sumber
Sumber

Sastro yang merupakan supir C.H. Japing saat itu mengadakan selamatan saat menerima medali kelas 10 tahun. Upacara yang terjadi pada tahun 1937 itu juga dihadiri oleh rekannya yang juga sudah menerima medali tersebut. Uniknya penjelasan pada foto tersebut masih memakai nama J.M.C. bukannya I.M.C.
Kembali ke artikel, jika kita melihat kalimat yang tertera, kemungkinan para penerima medali ini hanya terbatas bagi yang majikannya menjadi anggota J.M.C..
Untuk pekerjaan supir sendiri, berdasarkan buku Indisch Verslag 1931, terdapat data penduduk Hindia Belanda yang bekerja. Di Batavia sendiri terdapat 4 orang Eropa, 178 orang Inlander, dan 3 orang Cina keturunan yang melamar bekerja sebagai supir. Yang diterima sebagai supir 43 orang Inlander. Sedangkan lowongan yang dibuka untuk 44 orang Inlander.
Untuk di Bandung terdapat 2 orang Eropa, 252 orang Inlander, dan 2 orang Cina keturunan yang melamar. 62 orang Inlander yang diterima. Lowongan yang dibuka untuk 139 orang Inlander.
Tegal: 2 orang Inlander untuk ketiga macam laporan.
Yogyakarta: 1 orang Eropa, 160 orang Inlander, dan 1 orang Cina keturunan yang mencari pekerjaan. 67 orang Inlander yang diterima sebagai supir. Lowongan yang dibuka adalah untuk 68 orang Inlander.
Surabaya: 6 orang Eropa, 75 orang Inlander, dan 1 orang Cina keturunan yang melamar. 69 orang Inlander yang diterima. 79 lowongan kerja untuk orang Inlander.
Malang: 4 orang Eropa dan 26 orang Inlander yang melamar. 2 orang Eropa dan 16 orang Inlander yang diterima. Lowongan yang dibuka untuk 3 orang Eropa dan 17 orang Inlander.
Jika kita lihat data diatas, pekerjaan supir tidak hanya ekslusif untuk orang Inlander belaka. Namun sudah menjadi salah satu lowongan pekerjaan resmi pada masa kolonial yang bahkan dikerjakan oleh keturunan ningrat dan orang Eropa sekalipun.
Menurut artikel sendiri, pekerjaan supir atau lebih tepatnya mengemudikan mobil pada masa kolonial dipandang sebagai pekerjaan yang susah. Pada masa itu, sering sekali terjadi kecelakaan baik yang biasa maupun yang mengerikan.
Dapat dibilang pemberian piagam dan medali ini adalah suatu langkah yang sangat unik dan bagus pada masanya. Selain untuk meminimalisir angka kecelakaan, para supir notabene mendapatkan sebuah kebanggaan tersendiri. Dimana mereka bisa membanggakan kinerja pekerjaan mereka yang aman. Selain itu pula, mereka juga bisa bangga karena mendapatkan penghargaan dari J.M.C.. J.M.C. sendiri pada masanya bukanlah organisasi kacangan atau kecil. Menurut artikel pula, banyak papan penanda J.M.C yang digantung di jalan - jalan besar pulau Jawa terutama di kota - kota di pulau tersebut. Alhasil banyak orang yang tahu tentang organisasi tersebut.
Selain itu bagi masyarakat awam, mereka sudah pasti akan memberi penilaian baik kepada supir penerima medali tersebut. Juga timbul rasa aman dan nyaman jika mereka tahu bahwa supir yang mengantar mereka sudah bertahun - tahun tidak mengalami kecelakaan. Berbeda pada masa sekarang dimana jalanan hampir tiada aturan atau seperti yang ibu saya pernah bilang setan berkeliaran di jalan ...


Usia: 1926

Selasa, 01 November 2016

Koleksi Juventus-ku

Untuk post awal bulan November ini saya akan memperlihatkan beberapa koleksi saya tentang Juventus. ... kalau ini bisa disebut sebagai koleksi lol Karena ini bertepatan dengan ulang tahun klub tersebut.
Seperti yang sempat saya singgung di post (ini), klub sepakbola favorit saya adalah Juventus. Jujur saja, saya bukan orang yang pertama kali mendengar klub tersebut langsung mendukungnya. Karena awalnya saya tidak mengenal sepak bola. Pertama kali mendengar Juventus pada awal 1990-an, ingatan saya terpatri saat salah satu komentator menyebut Juve sebagai "Tim Kuda Hitam". Saat itu saya masih kecil alhasil belum mengetahui bahwa kalimat tersebut adalah tim kejutan namun saya menganggapnya sebagai sesuatu yang keren. Setelah terlupakan untuk beberapa tahun, saya bertemu Juve lagi saat bermain game.
FIFA Soccer 96, game Sega Megadrive / Genesis yang saya beli di Jakarta adalah game tersebut. Game sepak bola moyang dari FIFA 2017 ini membuat rasa penasaran saya kepada Juve semakin tinggi. Setiap kali saya memainkan Juve sebagai komputer, saya melihat tim tersebut menang terus. Namun saya masih belum paham soal sepak bola.
Sumber
Pada akhirnya ketertarikan saya kepada Juve berubah saat musim sepak bola tahun 1997/98. Saat itu permainan Alessandro del Piero, Zinedine Zidane, Antonio Conte, Edgar Davids serta seragam yang cantik, menyihir saya untuk mendukung klub tersebut. Saya masih ingat, pertandingan pertama Juve yang saya tonton adalah di RCTI saat Juve tandang ke Monaco pada semifinal Liga Champions. Namun saya tidak menonton 90 menit penuh karena ditayangkan pada dini hari.
Saking senangnya saya dengan Juve, saya sampai mengganti tanda tangan saya dari yang sebelumnya nama saya yaitu "Timur" menjadi "Juve". Namun pada dasarnya penggantian tanda tangan ini tidak merubah arti nama saya juga. Karena baik "Timur" dan "Juve" mempunyai arti yang sama yaitu "Muda". Tanda tangan "Juve" tetap saya pakai hingga sekarang. hehehe
Sumber

Selain tanda tangan, saya juga sempat membuat sumpah pada masa itu. "Juve, Io Constante Amore Tu Fino A Io Morire" yang artinya "Juve, saya akan tetap mencintaimu hingga mati". Sumpah yang saat itu saya buat sendiri dengan bantuan sebuah kamus italia - indonesia. hehehe
Setelah sempat diuji dengan penampilan Juve pada tahun 1998/99 dan tahun 1999/00 serta kasus Farsopoli / Calciopoli, saya tetap mendukung penuh klub tersebut hingga sekarang. Dan selama ini saya sempat membeli beberapa pernak - pernik Juve hanya saja karena sering sekali saya pindah rumah, banyak yang hilang. Namun ada beberapa yang berhasil saya simpan.
Yang pertama adalah buku kliping yang saya mulai buat pada tahun 1999.











Sebenarnya bukan kliping melainkan album foto yang ditempeli berbagai gambar dari koran dan majalah. hehehe Seperti yang anda lihat, gambar - gambar tersebut saya ambil dari tabloid "Bola", "Go", "Sportif", "Liga Italia", dan kartu - kartu yang saya beli pada saat saya sekolah.
Selain itu pula, saya berhasil menyimpan print sejarah Juve dari situs resmi Juventus namun dari tahun 1999!

Jika diperhatikan, gelar liga italia terakhir pada sejarah yaitu pada musim 1997/98. 
Dalam album ini juga terdapat kartu koleksi buatan Upper Deck yang dibelikan oleh mendiang ayah saya saat beliau ke Jakarta.



Kartu - kartu ini seperti yang anda lihat, asli.
Koleksi yang kedua adalah poster Juve tahun 1996/97.

Saya membelinya saat tinggal di Sragen pada tahun 1999, poster tersebut masih menghiasi apotek saya. hehehe
Koleksi ketiga adalah kaos Alessandro del Piero buatan Grifone. Pabrik kaos Indonesia.



Terlihat pula Alen Boksic dan Christian Vieri. Dua pemain Juve yang hanya bermain pada musim 1996/97. Saya meragukan jika ini merchandise asli, berhubung logo Juve yang memakai kuda bukannya banteng. Kaos itu saya beli di Surabaya pada tahun 2000 dan masih saya pakai pada saat nonton bareng. :)
Koleksi keempat adalah vandel.


Vandel yang saya beli pada tahun 2000 di Malang ini memperlihatkan Juve saat memakai sponsor  utama tahun 1998/99 yaitu "D+ Liberta Digitale".
Koleksi kelima adalah kaos official merchandise atau merchandise resmi dari Juve.



Kaos dibuat oleh E.P.I.

Kaos untuk musim kompetisi tahun 2004/05 ini dibelikan oleh mendiang ayah saya saat beliau kunjungan kerja ke Italia. Saat itu saya memang meminta untuk membelikan kaos ini. Tapi yang saya tidak tahu, ayah saya membeli kaos itu saat beliau berada di Roma. Mendiang ayah saya menceritakan bagaimana membeli kaos tersebut. Saat masuk ke sebuah toko olah raga dan menanyakan kaos tersebut, mendiang ayah saya langsung diberitahu oleh penjaga toko. "Juventus Is Shit", itu kata dia. Untung saja, mendiang ayah saya berhasil membeli kaos tersebut dan alhasil kaos dengan nama dan angka Pavel Nedved yang juga salah satu pemain favorit saya ini tetap saya pakai saat nonton bareng pula. Uniknya, kaos ini adalah tim dari Turin, kaos dibuat di Milan dan dijual di Roma. XD
Jadi inilah beberapa koleksi Juve saya, usianya pun belum terlalu tua memang. Namun yang penting adalah dukungan dari dalam hati yang paling dalam. :D

Forza Juve! Buon Compleano a 119 anni!! Fino alla Fine!!!


Usia: 1996 - 2005