Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indië hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Rabu, 15 Februari 2017

Wij Strijden Met De Teekenstift - De Bliksem-Oorlog

Kembali kita menyaksikan karya "Kick" Hofer yaitu Wij Strijden Met de Teekenstift.
Ironi dan ironi lagi. Kali ini ironi tersebut disandingkan oleh Hofer pada strategi perang Jerman saat itu yaitu blitzkrieg.
Blitzkrieg atau dalam bahasa inggrisnya yaitu lightning war dan dalam bahasa belandanya yaitu "De Bliksem Oorlog" digambarkan Hofer sebagai seekor siput. Siput yang ditunggangi oleh Hitler memang bukan tidak biasa rupanya, karena siput tersebut mempunyai kepala Hermann Goring. Kepala Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) yang juga menjabat pangkat tertinggi Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) yaitu Reichmarschall dipandang sebagai orang terkuat Jerman kedua setelah Hitler. Alhasil dia digambar oleh Hofer disini lengkap dengan model pesawat tempur pada wajahnya.
Uniknya pula pada sungut siput Goering terdapat 2 perwira dari cabang ketentaraan berbeda. Yang pertama adalah memakai seragam laksamana yang bisa kita asumsikan adalah Laksamana Agung Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) yaitu Erich Raeder. Yang kedua adalah seorang memakai stahlhelm (helm baja Jerman) dan mantel, kita asumsikan dia adalah orang Heer (Angkatan Darat Jerman). Setelah terdapat figur Goering dan Raeder sebagai kepala, maka bisa kita ambil kesimpulan jenderal Heer disini adalah Walther von Brauchitsch yang saat itu menjabat Komandan Heer saat Hofer membuat karyanya ini.
Super siput disini memang dibuat Hofer sebagai perlambang kekuatan perang Jerman yang dianggap mulai melamban pasca gagalnya Jerman menginvasi Inggris. Secara sinis, Hofer menambahkan hiasan - hiasan petir yang terdapat tulisan "Latente Dreiging der Soviets" (Bahaya Laten Soviet), "Blokade" (Blokade), "Moedeloosheid in Duitschland" (Keputusasaan di Jerman), "Britsche Opmarsch in Afrika" (Gerak Maju Inggris di Afrika), "Generaal Winter" (Jenderal Musim Dingin - untuk yang ini, Hofer membuat ramalan yang kitu dan kelak akan terbukti pada akhir tahun), "Grieken" (Yunani), "Italie 's Onbetrouwbaarheid" (Ketidakandalan Italia), "R.A.F. Bombardementen" (Pemboman RAF - Angkatan Udara Inggris), "Amerika's Hulp" (Bantuan Amerika) dan "Lijdelijk Verzet in Bezette Gebieden" (Perlawanan Pasif di Daerah Pendudukan). Petir - petir disini secara ironi mempunyai pembanding negatif dibanding dengan arti sesungguhnya dengan blitzkrieg. ... Hitler tetap melakukan perang kilat terhadap Inggris. Namun kilatnya menyambar dia sendiri ... 


Usia: 1941

Minggu, 12 Februari 2017

Pasukan PETA

Serupa dengan post Barisan Madura, kali ini saya akan memperlihatkan artikel pasukan PETA dari sebuah majalah sezaman. Namun bedanya, saya juga akan menambahkan beberapa arsip dan buku koleksi milik saya.
Yang pertama adalah dari majalah Djawa Baroe. Majalah nomor 3 terbitan 1 Februari 1944 ini memuat tentang beberapa gambar menarik pasukan PETA.
Perwira PETA terlihat bersama seorang anak perempuan dan lelaki tua.
Tentara tersebut saya sebut perwira karena dia membawa shin-gunto perwira. Selain itu pula, pada bahu terselempang 陸軍週番懸章 (rikugun shonba kensho - selempang dinas mingguan Angkatan Darat).
Untuk selempang, ada 2 macam selempang yang dipakai oleh Angkatan Darat Jepang pada saat itu.
Selempang warna kuning putih untuk perwira ajudan dan selempang warna merah putih untuk perwira dinas mingguan.

Seorang perwira terlihat membantu lelaki tua diatas merokok.
Tugas dari perwira dinas mingguan adalah berpatroli untuk menjaga ketaatan pasukan terhadap peraturan militer dan agar tidak ada pencurian serta pencegah kebakaran.

Gambar yang sering keluar di buku atau internet dimana banyak yang salah mengira bahwa ada 2 tentara Jepang mengajari anak kecil hormat militer. Namun yang tidak mereka ketahui, kedua tentara tersebut adalah tentara PETA

Para rekrutan PETA sedang bercengkrama, terlihat seorang perwira dinas mingguan di latar belakang.
Para perwira dinas mingguan betugas dari hari Sabtu siang hingga hari sabtu minggu berikutnya.
Sebenarnya ada pula bintara dinas mingguan, ini dilambangkan dengan ban lengan dengan model yang sama dengan selempang.
Kelengkapan yang dipakai oleh perwira dinas mingguan disini serupa dengan hierarki perwira, bintara, dan tamtama piket TNI pada masa kini
Hierarki piket pada pasukan siswa yang diikuti oleh ayah saya
Para prajurit PETA menaiki sebuah kereta.
Perhatikan klewang heiho yang dibawa oleh tentara di tengah.
Perhatikan pula oang paling kanan yang memakai ban lengan dengan motif hinomaru. Ada kemungkinan dia adalah petugas kereta api

Jika anda perhatikan seragam PETA dibuat dari seragam KNIL yang tersisa dari invasi Jepang ke Hindia Belanda. Seragam yang dimaksud disini adalah seragam Stadswacht yang dibuat pada akhir tahun 1941.

Setelah majalah Djawa Baroe, koleksi kedua adalah dari diary (buku harian) Moechtar Al Moedjahidy dari Kauman Solo. Siswa sekolah Al Islam ini mencatat mars PETA dalam bukunya. Uniknya awalnya dia menulis judul mars tersebut dengan kalimat "Soeka Rela" (Sukarela) bukannya "Tentera Pembela".

Selain mars, Moechtar juga menggambar panji pasukan PETA.

Untuk mars di atas, kita jangan melupakan tentang buku Pembelaan Tanah Air.

Koleksi keempat, berasal dari buku Njioer Melambai oleh Isobe Yuji. Ada beberapa tulisannya menyinggung pasukan PETA disini.
"Hidoep-mati bersama-sama" (Hidup mati bersama - sama).
Otto Iskandar di Nata dalam rapat Chuo Sangi In IV menyatakan kepada prajurit PETA:
"Engkau seorang prajurit; seorang yang terpilih sebagai seorang ksatria untuk mempertahankan tanah air kita. Engkau harusnya sanggup menempuh api dan air guna kepentingan tanah air kita jika engkau mendapat perintah."

"Pelindoeng boemi Indonesia genap setahoen" (Pelindung bumi Indonesia genap setahun).
Pasukan PETA sempat berbaris di Higashi Hoko Dori dan membuat Isobe Yuji terkesima.

"Kepada perdjoerit PETA" (Kepada Prajurit PETA).
Ito Seiji, salah satu pemimpin PETA yang pertama dan juga Instruktur Kompi Khusus. Letnan Satu tersebut berasal dari Badan Intelijen Jepang

"Wanita - wanita jang ingin berbakti" (Wanita - wanita yang ingin berbakti).
Fujinkai kota Bogor menyediakan teh untuk pasukan PETA yang sedang berlatih

Untuk yang kelima, memang tidak terlihat pasukan PETA disini. Namun baris berbaris yang sempat saya buat di post ini salah satunya bisa diterapkan di PETA.

Dan yang terakhir bukan dari koleksi saya. Melainkan milik teman saya yaitu muara-buku. Koleksi disini adalah sebuah nota koran Sinar Matahari dimana salah satu biaya yang ditarik adalah sumbangan kepada BPP. BPP disini adalah singkatan "Badan Pembantoe Perdjoerit" (Badan Pembantu Prajurit) pasukan PETA.

Jadi inilah koleksi PETA yang saya punya. Semoga bisa menambah wawasan anda. :)


Usia: 1943 - 1945.