Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Selasa, 20 Oktober 2015

Ship Week - Lichtstraal

Setelah rehat dengan foto-foto KNIL, kita kembali ke Ship Week. Kali ini dengan clipper (kapal layar super cepat) Lichtstraal.
Kapal dengan dimensi 61,98 m x 12 m x 7,98 m dan berbobot 1500 ton yang dibuat 1863 ini dipandang sebagai clipper paling sempurna yang pernah dibuat di Belanda. Ini dibuktikan dengan beberapa perjalanan cepat antara Belanda ke Hindia Belanda. Selain itu pula, kapal ini sangat populer di kalangan penumpang karena bagusnya layanan kapal kepada penumpangnya.
Lichtstraal seperti Liberaal dibangun oleh Jan Smit di galangan Slikkerveer. Bobot 1500 ton dipandang sebagai salah satu kapal terbesar yang pernah dibuat pada saat itu. Untuk kapal buatan Jan Smit sendiri, Lichtstraal berada di urutan ketiga setelah Voorlichter dan Liberaal dalam ukuran kapal.
Mirip dengan Kosmopoliet III, Lichtstraal sempat dipakai untuk kepentingan militer. Bedanya Lichtstraal dipakai untuk mengantar pasukan tambahan untuk KNIL dari Belanda ke Hindia Belanda. Tugas ini diketahui dilakukan antara tahun 1866 - 1869 sebanyak 4 kali.
Suasana kapal penuh dengan prajurit
ke Hindia Belanda pada tahun 1896.
Sumber

  • Tahun 1866, 4 perwira dan 125 orang prajurit. 84 hari lama perjalanan.
  • Tahun 1867, 3 perwira dan 125 orang prajurit, 89 hari lama perjalanan.
  • Tahun 1868, 3 perwira dan 150 orang prajurit, 90 hari lama perjalanan.
  • Tahun 1869, 3 perwira dan 125 orang prajurit, 82 hari lama perjalanan. Satu orang prajurit meninggal di kapal.

Sumber
Pasukan-pasukan yang dikirim adalah pasukan yang direkrut di Koloniale Werfdepot di Harderwijk. Tempat yang eksis dari tahun 1814 hingga 1909 dikenang mempunyai reputasi yang buruk, bahkan terdapat julukan Het Riool van Europa atau "Selokan Eropa".
Sumber
Werfdepot sendiri adalah unit Angkatan Darat Belanda yang merekrut, melatih dan mempersiapkan orang-orang Belanda yang direkrut di Belanda untuk dikirim ke Hindia Belanda. Sebelum 1830, unit ini dibawah kendali Ministerie van Oorlog (Kementerian Perang). Pasca tahun tersebut, berpindah tangan ke Ministerie van Colonien (Kementerian Koloni). Rekrutan sendiri dilatih selama 6 minggu sebelum dikirim ke Hindia, sebanyak 150.000 tentara dikirim dari Belanda ke Hindia Belanda. Julukan Het Riool van Europa disini muncul karena banyak orang tidak jujur yang mendaftarkan diri dan akhirnya lari bersama uang pesangon yang mereka dapatkan setelah mendaftar. Tidak sedikit yang menggunakan uang yang mereka terima untuk berkunjung ke bar dan pelacuran di Harderwijk yang ironisnya para penduduknya penganut Kristen Protestan yang taat. Selain itu pula, nama yang buruk ini muncul dari paksaan militer kepada para rekrutan. Ironisnya kepada para sukarelawan yang dipaksa untuk mendaftar diri. Rekrutan yang diambil juga salah satunya adalah para desertir dari tentara negara lain. Namun tidak semua rekrutan dari Harderwijk buruk, beberapa diantaranya bahkan mendapatkan penghargaan militer tertinggi Belanda yaitu Militaire Willems Orde. Koloniale Werfdepot sendiri ditutup pada tahun 1909. Sebenarnya terdapat sebuah tempat rekrutan selain di Hardewijk, tempat ini adalah di Nijmegen. Tepatnya tempat pasukan Korps Koloniale Reserve yang dibentuk pada tahun 1890. Berbeda dengan Hardewijk yang terlebih dahulu tutup, Nijmegen dan Korps Koloniale Reserve tetap bertahan hingga Perang Dunia II. Bahkan pada tahun 1914, Nijmegen sempat mengirim beberapa sukarelawan ke Hindia Belanda.
Kembali ke Lichtstraal, pada tahun 1874, kapal ini dibeli oleh perusahaan perkapalan van Zeylen & Decker dari Rotterdam Belanda, Lichtstraal berganti nama menjadi Susanna Johanna. Malangnya van Zeylen & Decker mengalami kebangkrutan dan kapal berganti kepemilikan ketangan Pieter van der Hoog pada tahun 1879. Pieter sendiri mengembalikan nama Lichtstraal. Namun Lichtstraal tidak bisa bertahan lama dari kemajuan jaman. Pada tahun 1884 - 1885, Pieter membangun tiga kapal baru dan memutuskan menjual kapal-kapal kayunya. Salah satunya Lichtstraal yang dijual ke Reder August Kopcke dengan harga murah pada 1885. Lichtstraal berganti nama menjadi Jacoba, dan sayangnya dengan nama barunya kapal ini tidak bertahan lama. Pada 10 Oktober 1886, Jacoba alias Lichtstraal patah menjadi dua dan tenggelam di lepas pantai Cirebon Jawa Barat saat membawa garam.
Lukisan dibuat pada tahun 1942 dan menempati nomor urut 584 seri ke-14 kartu pos de Muinck & Co. Amsterdam.


Usia: 1942 - 1947

Senin, 19 Oktober 2015

KNIL Equipment

Mari kita rehat sejenak dari sejarah perkapalan Belanda dan kita menuju ke KNIL.
Untuk kali ini saya akan memperlihatkan foto-foto peralatan KNIL pada era 1930-40an. 

Luchtdoel Zoeklicht (Vervolgend) Tjimahi
Yang pertama saya perlihatkan disini adalah lampu sorot dalam keadaan sedang tidak digunakan. Jika anda lihat, lampu tersebut dalam keadaan tertutup
 

Kijkertoestel Vol-Automatisch Verkennen Zoeklicht Tjimahi
Foto kedua memperlihatkan semacam teropong atau periskop yang digunakan bersamaan saat pengoperasian lampu sorot. Kita bisa melihat beberapa tombol-tombol pengoperasian alat tersebut. Seperti tulisan di foto, kita dapat mengamsusikan bahwa alat tersebut berjalan secara otomatis. Kita juga bisa melihat pula lampu sorot yang terdapat di background foto. Selain itu pula lampu sorot dalam keadaan terbuka. Foto ini dan foto lampu sorot di atas diambil di Cimahi, Jawa Barat.

Luistertoestel Chemie-Automatische Luchtdoel Zoeklicht Soerabaja
Koos Allemany
Setelah dari Cimahi, kita beralih ke Surabaya Jawa Timur. Untuk foto pertama adalah alat pendengar pesawat udara. Alat berbentuk unik ini dapat dikatakan alternatif murah dari radar. Dimana kedatangan pesawat dapat dideteksi dengan alat tersebut. Hanya saja ini tidak dapat diandalkan secara penuh dibandingkan radar karena jika ada intervensi suara selain pesawat (semisal hujan) maka akan tidak mudah mendeteksi pesawat. Berdasarkan situs yang diberikan oleh mentor saya yaitu Koos Allemany, bahwa pada tahun 1936 KNIL membeli alat ini sebanyak 6 buah. Secara resmi, alat tersebut bernama Luitertoestel Kolonien. Selain itu pula, setahun berikutnya KNIL juga membeli luitertoestel standar atau yang bernama Luitertoestel Waalsdorp sebanyak 7 buah. Apa perbedaan antara 2 luitertoestel tersebut? Luitertoestel Kolonien dibuat untuk keperluan mobilitas cepat. Maka alat ini dibuat dengan sebuah mesin motor lengkap dengan 2 buah roda. Uniknya pula, pada akhirnya demi mobilitas, model Waalsdorp juga dilengkapi seperti model Kolonien
Bagi anda yang penasaran dengan alat apa yang ada di badan para prajurit di foto ini, alat tersebut adalah perlengkapan dari luitertoestel. Fungsi dari alat yang bisa ditiup dengan angin tersebut adalah agar tentara yang bertugas di luitertoestel ini bisa mendengar lebih jelas kedatangan pesawat. Kita juga bisa melihat seorang perwira di sebelah kanan foto, kemungkinan perwira tersebut berpangkat tweede luitenant atau letnan dua


Chemie Automatische Luchtdoel Zoeklicht Soerabaja
Untuk foto kedua di Surabaya ini, kita bisa melihat para awak lampu sorot sedang bergaya saat difoto. Kita bisa melihat pula kebersamaan antara prajurit Eropa dan prajurit Inlander alias pribumi disini. Mungkin kita sebagai orang Indonesia, kita jarang atau tidak pernah melihat kejadian semacam ini. Mereka sedang narsis mungkin ya. Tidak jauh beda dengan tentara pada masa kini. hehehe

Verkennend Zoeklicht Soerabaja
Anda pasti sudah mengenal foto ini karena selain saya taruh di muka blog, foto ini sempat saya singgung di post ini. Jika anda perhatikan pada sebelah kanan foto, anda bisa melihat unit luitertoestel sedang dalam keadaan siaga.
Untuk unit zoeklicht sendiri, di Belanda mereka masuk dalam unit genie. Bagi pemerhati militer nasional, nama tersebut sudah tidak asing bagi anda karena nama tersebut adalah asal usul dari nama Zeni. Sedangkan untuk KNIL, unit zoeklicht awalnya masuk dalam kedinasan artileri dan nantinya berubah menjadi luchtdoelartillerie atau artileri anti serangan udara

Jika kita melihat tempat dimana foto-foto ini diambil, kita bisa mengetahui bahwa Surabaya dan Cimahi saat itu menempati tempat yang tidak kecil bagi KNIL. Khusus Cimahi sendiri, di kota tersebut juga terdapat Hoefsmidschool atau sekolah tapal kuda kavaleri KNIL.

*Update 8 April 2016:
Berikut emblem Zeni, Artileri, dan Luchtdoelartillerie yang berlaku di KNIL pada saat itu. Sumber semua gambar dari maarktplaats


Dornier Do-24
Untuk foto yang terakhir adalah satu dari pesawat apung terkenal di Perang Dunia II. Dornier Do-24 sendiri adalah pesawat apung buatan Jerman yang dibuat atas permintaan Angkatan Laut Belanda untuk keperluan pengawasan perairan Hindia Belanda. Didesain untuk menggantikan Dornier Wal yang sudah menua, Do-24 didesain pada tahun 1936 dan keluar produksi pada tahun 1937. Selain dibuat oleh pabrik Dornier di Jerman, Do-24 juga dibuat di Belanda oleh Aviolanda di Papendrecht. Untuk Belanda sendiri, mereka merencanakan mengakuisi 90 buah pesawat, 60 diantaranya dibuat oleh Aviolanda dan sisanya oleh Dornier. Namun hanya 25 buah dibuat oleh Aviolanda saat Belanda diserbu Jerman pada tahun 1940. Do-24 yang berhasil direbut oleh Jerman akhirnya dioperasikan oleh Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman). Bagaimana dengan Do-24 di Hindia Belanda? Sebanyak 37 buah Do-24 berhasil dikirim sebelum Belanda diinvasi. Untuk koleganya di Hindia Belanda ini, Do-24 mencatatkan beberapa prestasi penting. Beberapa diantaranya penenggelaman kapal perusak
Sumber
Jepang Shinonome pada 17 Desember 1941 dan pendeteksian invasi pasukan Jepang ke Pulau Tarakan di Kalimantan Utara. Alhasil instalasi kilang minyak di pulau tersebut berhasil dihancurkan sebelum Jepang mendarat. Setelah jatuhnya Hindia Belanda ke Jepang, Do-24 yang berhasil meloloskan diri bergabung dengan sekutu dan beberapa diantaranya masuk dalam kedinasan RAAF (Angkatan Udara Australia). Selain dioperasikan oleh ketiga negara diatas, Do-24 juga dioperasikan oleh Swedia dan Spanyol pada masa Perang Dunia II dan Prancis serta Norwegia pasca Perang Dunia II.
Untuk foto disini, kita bisa melihat 2 Do-24 sedang berada di sungai. Karena saya mendapatkan foto ini dari album foto yang mayoritas diambil di Kalimantan dan beberapa di Pontianak. Maka saya asumsikan foto Dornier ini diambil di tempat yang sama.  

Jika kita perhatikan, pada badan pesawat terdapat roundel (lambang identitas pesawat) berbentuk segitiga terbalik. Ini menandakan foto diambil pada medio 1939 - 1942. Pada masa itu agar menghindari kebingungan dalam pengidentifikasian roundel antara Belanda, Prancis, dan Inggris, Belanda mengubah roundel-nya yang awalnya bundar menjadi segitiga.
Evolusi Roundel Angkatan Udara Kolonial Belanda
1921 - 1939 & 1948 - 1950

1939 - 1942
Sumber

1942 - 1948
Sumber

Satu hal terakhir, jika anda melihat foto luitertoestel lagi dan anda perhatikan tentara nomor 2 dari kiri, tentara tersebut mirip dengan aktor Hollywood terkenal. Siapakah dia? Michael Fassbender! hehehe


Usia: dibuat 1936 - 1942