Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Selasa, 04 Juni 2019

Pasukan Keraton Kasunanan Surakarta - Kualitas

Dalam sejarahnya kualitas pasukan keraton bermacam - macam. Saya belum mendapatkan informasi mengenai kualitas pasukan pada masa VOC ataupun Inggris. Namun pada masa Perang Jawa, kualitas pasukan terbilang cukup. Dimana meski sempat mengalami beberapa kekalahan namun elemen pasukan keraton meraih kemenangan di front Imogiri dan saat pertempuran Gawok yang menentukan. (nanti di bab berikutnya saya akan memaparkan kiprah pasukan keraton saat Perang Jawa)
Pasca pengurangan pasukan yang terjadi setelah usainya Perang Jawa, pasukan kembali lagi menjadi pasukan kehormatan dan bukannya pasukan perang. Alhasil kualitas pasukan terbilang terbengkalai. Hal tersebut terkulminasi dengan adanya pembangkangan yang terjadi pada tahun 1860. Hingga tahun 1864, pemerintah terkesan abai soal kedisipilinan ini hingga mendapatkan sorotan dari seorang jurnalis. 
Status pasukan keraton sebagai pasukan kehormatan memang sudah terlihat oleh orang biasa seperti jurnalis Bataviaasch Nieuwsblad pada tahun 1915. Saat mengikuti prosesi kunjungan Gouverneur Generaal Alexander Willem Frederik Idenburg di Surakarta, dia menyaksikan bahwa ada beberapa pasukan keraton yang ikut serta dalam rute pengamanan dari stasiun kereta api Jebres hingga ke rumah Residen. Dia menyebut bahwa mereka hanyalah pajangan belaka. Dengan kata lain pasukan keraton bukan sebagai pasukan militer.
Menyingung tentang status pasukan keraton sebagai pasukan kehormatan, ada pandangan unik dari seorang Belanda. Seorang saksi membandingkan pasukan keraton dengan pasukan piekenier en stadssoldaten Batavia yang memberi jalan datangnya Gouverneur Generaal. Namun penampilan mereka dipandang meruntuhkan kekhidmatan upacara alhasil mereka dicap sebagai pasukan teater yang paling konyol. Namun sang saksi mengkritik kondisi tersebut bukan karena penampilannya karena peran mereka pada dasarnya sama dengan pasukan keraton. Dimana penampilan pasukan keraton akan dibela namun bukan untuk pasukan kehormatan Gouverneur Generaal tersebut.
Pasukan piekenier en stadssoldaten Batavia sendiri menurut Koloniaal Verslag 1911, dibubarkan pada tahun 1897 saat adanya reorganisasi di tubuh kepolisian Hindia Belanda. Menurut laporan kolonial tersebut pasukan yang disebut dengan panggilan "stadssoldaten of piekeniers" dibubarkan bersama "nachtwaker" di Semarang dan Surabaya. Pasukan sebelum tahun 1897 bertugas menjaga keamanan kota Batavia dan terdiri dari orang inlander. Tugas mereka saat itu digantikan sementara oleh "inlandsch politieagent" kelas tiga. Pasukan tersebut tidak lain adalah sebutan baru polisi pribumi yang dahulu sebelumnya disebut dengan oppasser.
Pasukan Stadssoldaten of Piekeniers Batavia
Sumber: Ebay

Kondisi pasukan keraton yang menyedihkan juga terbersit pada tulisan di koran Bataviaasch Nieuwsblad mengenai kondisi militer kota Solo pada tahun 1916. Tulisan tersebut mengungkapkan bahwa pertahanan kota, lemah. Selain melihat, meriam yang ditembakkan di benteng Vastenburg untuk perayaan Garebeg Puasa, hanya cocok untuk pesta. Meriam tersebut hanya bersuara saja namun jika dibawa perang maka sang penembak akan kehilangan nyalinya dan meninggalkan meriamnya karena meriam tersebut sudah tua. Parahnya lagi sang jurnalis mencatat bahwa saat itu semua perwira dan prajurit garnisun tidak berdinas. Sebagai gantinya pasukan keraton ditempatkan di benteng. Koran dengan sinis menyatakan tidak adanya pasukan yang kompeten akan berakibat fatal jika ada pemberontakan dari Sarekat Islam ataupun serbuan dari Jepang.
Dari pihak keraton, sebenarnya mereka juga ingin meningkatkan kualitas pasukan. Salah satunya dengan permintaan Pakubuwana X kepada Belanda pada tahun 1918. Saat itu sang Sunan memiliki 2 buah mimpi yaitu pasukan keraton memakai senapan Beaumont dan adanya instruktur. Legiun Mangkunegara terbukti superior karena adanya instruktur. Dimana orang tersebut pintar dan cakap dalam sekolah kompi dan batalion serta pintar dalam persenjataan. Seorang wartawan mendukung mimpi Pakubuwana X tersebut. Bukan karena dia haus kehormatan atau prestise melainkan karena sebagai seorang Generaal Majoor dia ingin berpartisipasi dalam pertahanan Hindia Belanda saat Perang Dunia I meski hanya kecil. Selain itu dia ingin seorang perwira instruktur saja. 
Akhirnya pada medio April 1920, keinginannya tercapai. Namun berbeda dengan pasukan legiun, instruktur tersebut bukanlah perwira melainkan onderofficier. Akan tetapi ada harapan instruktur baru tersebut dapat meningkatkan kualitas pasukan keraton yang biasanya menjaga upacara garebeg.
Salah satu contoh instruktur tersebut adalah Th. P. Wijnbeek. Meski hanya menjabat beberapa bulan saja namun Wijnbeek mendapat medali Mendhali kang minongka kapengetaning pahargyan tingalan dalem tumbuk yuswa 64 tahun pada acara tumbuk tersebut. Wijnbeek pensiun dari dinas kemiliteran pada 30 September 1941 dengan pangkat adjudant onderofficer der artillerie
Kualitas pasukan pada akhirnya menjadi apik saat terjadi revolusi yang saya namakan "Revolusi Purbanegara" dibawah kepemimpinan Pangeran Purbanegara pada era 1930-an. Hal tersebut dilakukan karena kualitas pasukan pada saat itu terbilang buruk meskipun sudah ada onderofficier instruktur dari KNIL. Kemampuan pasukan di sekolah kompi ataupun di sekolah batalion saking rendahnya maka tidak akan tercapai targetnya. Bahkan wartawan melihat kondisi pasukan berantakan. Alhasil kualitas pasukan menjadi kebijakan utama Purbanegara. 
Hal pertama yang dilakukan adalah pengiriman Pangeran Jatikusumo ke Akademi Militer Breda pada tahun 1930.
Langkah kedua adalah reorganisasi pasukan pada tahun 1931. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi pasukan sendiri. Meski jumlah pasukan besar yaitu sekitar 1300 - 1400 orang namun 500 diantaranya tidak bisa berdinas karena faktor usia. 200 orang bahkan berumur lebih dari 60 tahun. Bahkan ada salah satu prajurit yang berumur 98 tahun dan masih ikut latihan! Surat kabar Belanda lainnya bahkan menyebut angka lebih besar yaitu 700 orang yang tidak fit untuk tugas militer.
Uniknya terlepas dari kondisi yang unik tersebut, seorang jurnalis menilai pasukan keraton dapat diandalkan. Hal itu tidak terlepas dari status rekrutan prajurit itu sendiri yaitu secara sukarela. Meski gaji dan pensiun kecil namun kehormatan dan bukan uang gaji yang menjadi motivasi mereka menjadi pasukan keraton. Karena hal inilah, tidak ada infiltran maupun simpatisan komunis didalam pasukan keraton karena kekecewaan tidak akan muncul. Akan tetapi motivasi tersebut menjadikan beberapa dari mereka membolos kerja. Karena merasa mereka tidak diwajibkan menunaikan tugasnya. Meski hierarki pasukan sadar bahwa mereka bukan pasukan perang melainkan pasukan kehormatan, akan tetapi reorganisasi tetap jalan. Wartawan lainnya menyebut bahwa meski prajurit sadar akan tugasnya dan juga gajinya yang kecil, tetap ada komplain mengenai gaji. Bagi sang wartawan, hal itu sungguhlah aneh.
Purbanegara kemudian merencanakan untuk merekrut orang - orang muda. Diproyeksikan 30 orang diberhentikan perbulannya, jika bisa 60 orang perbulan menjadi target. Diproyeksikan pada bulan Desember 1931, 200 orang akan diberhentikan.
Apakah pemberhentian disini berarti pemecatan? Tidak juga. Seorang wartawan Belanda lainnya mencatat, untuk tentara yang tua mereka diberi tugas khusus di pasukan. Pemberhentian juga berlaku kepada perwira yang tua pula. Purbanegara mempensiunkan mereka dan memberi mereka pos atau pekerjaan baru di keraton. Manajemen berbagai departemen dalam pasukan berikutnya dipegang oleh litnan - litnan yang masih muda.
Langkah ketiga adalah pelatihan onderoppisir dalam bahasa Belanda. 
Langkah keempat  adalah pembentukan regu inspeksi untuk menjaga kualitas pasukan.
Langkah - langkah diatas ditambah pula dengan diadakannya tes tertulis secara periodik.
Efek dari Revolusi Purbanegara sudah terlihat pada tahun 1932. Saat itu selain jumlah pasukan sudah berkurang banyak dan tinggal menyisakan seribuan orang, pasukan sudah mempunyai disiplin militer. Setahun kemudian pasukan keraton sudah dipersenjatai dan dilatih dengan modern dan baik. Seorang wartawan bahkan sangat terkejut melihat pasukan keraton bisa berbaris militer. Bahkan seorang saksi salah mengira pasukan keraton yang sedang berbaris dengan Legiun Mangkunegara. 
Seorang turis Amerika pada tahun 1935 melihat manuver barisan pasukan keraton terbilang apik.
Namun testimoni kualitas pasukan di mata militer orang barat terkulminasi saat kunjungan viceadmiraal Maarten Hendrik van Dulm pada tahun 1936. Sang laksamana komandan Angkatan Laut Hindia Belanda tersebut didampingi istri serta ajudannya yaitu luitenant ter zee Burghart (Francois Theodore Burghard?). Mereka didampingi oleh Pangeran Purbanegara menginspeksi pasukan di panggung yang dibangun di Alun - Alun Utara. 
Van Dulm beserta istri.
Sumber

Sang laksamana menyaksikan pasukan keraton yang membuat formasi carre. Kemudian pasukan mengubah formasi ke dalam bentuk lini dan bermanuver dengan rapi. Di depan pasukan, tambur mayor memimpin 12 orang panambur dan 12 orang panyompret. Kemudian diikuti oleh pasukan musik yang terdiri dari seorang tambur mayor, 6 orang panambur, 6 orang panyompret, dan 3 orang panyuling. Semua pasukan tersebut dipimpin oleh litnan kolonel Cokrokusumo yang menunggangi kuda. Dia menempati diri di samping panggung setelah tembakan salut. 
Kemudian pasukan melakukan parade yang dibarengi dengan musik yang meriah. Pasukan pertama adalah pasukan milik Pangeran Hangabehi yang memakai dodot, berpakaian warna hijau dan bertopi hitam. Mereka dipersenjatai dengan senapan (bukan karaben). Pasukan tersebut dipimpin oleh mayor Bondowinoto.
Grup musik yang ditempatkan di muka panggung memberi alunan musik mars. Mars riang terdengar tiap kali seksi pasukan lewat. Total sebanyak 3 resimen yang memberi penghormatan kepada sang laksamana.
Setelah defile, formasi carre ditampilkan kembali. Gerakan presenteer geweer (hormat senjata) dilakukan sembari lagu Wilhelmus dimainkan. Kemudian para tamu menaiki mobil yang telah menunggu untuk pulang.
Laksamana Dulm memuji Purbanegara atas kinerja pasukan keraton disini. Penampilan pasukan termasuk ciamik dan enak dipandang mata. 
Untuk sebuah pasukan kehormatan inlander, pujian tersebut tidaklah sembarangan. Belum lagi itu muncul dari seorang petinggi militer Belanda.
Kualitas pelatihan pasukan juga masih terlihat baik pada tahun 1939. Wartawan Bataviaasch Nieuwsblad menuturkan bahwa pasukan sudah terlihat modern dan dilatih dengan baik. Selain itu pula esprit de corps antara perwira dan prajurit, sempurna. Sudah menyaingi esprit de corps yang sama dengan yang terjadi di pasukan legiun.
Dari kesuksesan ini, orang Belanda menganggap Purbanegara, yang juga menerima pendidikan militer di Belanda, sebagai orang yang berpandangan jauh kedepan. Dimana dia berani mengubah "tradisi" demi modernisasi meski hanya dengan personel dan material yang minim. Purbanegara juga dipandang berberbakat dalam organisasi. Modernisasi pasukan terbilang sukses karena tradisi juga tetap bertahan.
Namun masa keemasan Purbanegara harus pupus pada masa Pakubuwana XI. Kualitas pasukan menurun yang dikarenakan dipotongnya anggaran perang.
Tentang kualitas pasukan, serasa kurang jika kita tidak membahas pasukan musik keraton. Kualitas pasukan musik keraton seakan sama dengan pasukan reguler. Rendah sebelum terjadinya Revolusi Purbanegara.
Kualitas pasukan musik yang jelek tidak dinyana terjadi saat kunjungan Gouverneur Generaal Idenburg ke keraton. Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 17 Desember 1915 memuat bahwa dua pasukan musik keraton:

"... zoo valsch dat het een marteling voor het oor was

atau "sangat fals hingga menjadi siksaan bagi telinga". Kacaunya lagi musik fals yang dimainkan disini adalah Wilhelmus! Sang jurnalis menerka mungkin pasukan musik keraton akan dipimpin oleh orang Eropa setelah dagelan tersebut.
Pada masa Purbanegara, pasukan musik secara rutin manggung selain saat hujan yang dapat membatalkan acara. Salah satu acara manggung mereka yaitu dengan pasukan musik Legiun Mangkunegara saat pesta liburan untuk politie pada tahun 1930.
Tahun 1933 dapat dibilang merupakan awal dari apiknya kualitas pasukan musik. Wartawan melihat pasukan sinyal atau musik keraton sangatlah bagus. Ini tidak terlepas dari latihan secara harian.
Tahun 1936 dibilang tahun "kejayaan" pasukan musik keraton. Dimana kualitas musik mereka tetap bagus di acara yang berbeda. 
Yang pertama saat upacara pernikahan putri Pakubuwana X yaitu Kusdinah dengan Padmodipuro. Dimana mereka memainkan musik pernikahan terkenal yaitu Hochzeitmarsch karya Mendelshon.
Hochzeitmarsch

Yang kedua saat acara pesta pacuan kuda yang diadakan di societeit de Harmonie, pasukan musik keraton ikut serta meramaikannya. Bersama dengan band jazz dari societeit sendiri, pasukan memainkan musik agar tamu undangan tidak bosan.
Yang ketiga saat upacara ulang tahun naik tahta Pakubuwana X yang juga diselingi oleh inspeksi sang Sunan langsung. Komandan pasukan musik keraton yaitu Wignyosuworo dipuji oleh surat kabar.
Yang keempat, saat perayaan hari ulang tahun Wilhelmina pasukan musik memainkan musik di rumah Gouverneur Solo (sekarang Balaikota Solo). Disana mereka memainkan musik yang riang untuk menemani para murid sekolah yang datang untuk merayakan hari spesial yang juga bernama Orange Dag tersebut. 
Setahun berikutnya pasukan musik dikirim saat latihan gabungan KNIL. Pasukan manggung di kantor staf latihan gabungan di Purwosariweg dan penampilan mereka dipuji.


<--- Pelatihan                                                                                     Panji / Vandel dan Bendera --->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar