Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Selasa, 04 Juni 2019

Pasukan Keraton Kasunanan Surakarta - Peralatan

Kurang diketahui pasti apa saja peralatan perang yang dipakai oleh pasukan keraton pada masa kolonial Belanda. Namun sedikit informasi bisa kita temui. Pada masa Pakubuwono II, pasukan dilengkapi dengan tombak, belati dan pedang.
Pada masa Pakubuwono III keluar peraturan khusus tentang keris. Menurut buku Kraton Surakarta dan Yogyakarta 1769 - 1874, bagi para prajurit pasukan keraton boleh membawa keris gagang tunggak semi.
Pada tahun 1776, VOC memberi pasukan Kasunanan bantuan peralatan perang yang berupa:
  • 300 pasang senapan lantak grenadier sistem snaphance plus bayonet
  • 60 karaben lantak
  • 60 pistol lantak
  • 600 golok
  • 14 drum tembaga
  • 1 buah pedang pallasch kualitas tinggi

Kasunanan juga sempat mendapat suplai 150 senapan dari VOC.
Pada masa kekuasaan Sunan Pakubuwono IV (berkuasa 1788 - 1820), pasukan keraton sekali lagi mendapatkan bantuan persenjataan dari VOC. Kali ini Gubernur Jenderal VOC yaitu Willem Arnold Alting (berkuasa 1780 - 1797) memberikan:
  • Senapan lantak sistem snaphance sepuh emas, 
  • Karaben lantak, 
  • Senapan lantak sistem snaphance, dan 
  • Pedang. 

Peraturan keris pada masa Pakubuwono IV serupa dengan ayahnya. Prajurit keraton boleh membawa keris gagang tunggak semi. Selain pasukan keraton, Sunan juga memperbolehkan abdi dalem mantri untuk memakai keris yang sama. Bagi masyarakat sipil, tidak diperbolehkan memakai keris tersebut. Selain itu pula, keris yang dilarang untuk dipakai masyarakat adalah keris pendhok parijatha, pendhok tatahan sawat, kemalon abang, dan warangka pupulasan dhasar kayu.
Mayoritas senapan lantak yang dipakai di Jawa baik oleh prajurit Jawa maupun Eropa pada masa itu, sudah ketinggalan jaman. Senapan masih memakai model flintlock pertengahan abad ke-18. Alhasil senapan susah diisi ulang, rawan di kondisi lembab, dan mejan setelah beberapa kali tembak. Hal tersebut juga diperparah dengan kurang lancarnya kemampuan orang Jawa dalam mengoperasikan senapan. Akan tetapi, pasukan Jawa sangat terampil dalam peperangan tombak.
Pada era Inggris, pasukan dilengkapi dengan senapan dan meriam.
Pasukan era Pakubuwono IX dilengkapi sesuai dengan tipenya. Kavaleri memakai pedang, tombak, dan senapan. Sedangkan infanteri memakai kapmes (golok), dan senapan. Tidak ketinggalan pasukan artileri dilengkapi klewang. Pasukan Kompi Baki dilengkapi dengan tombak.
Persenjataan Pasukan Keraton menjelang Abad ke-20 
Pasukan disini kemungkinan memakai senapan lantak.
Bisa jadi senapan lantak KNIL semacam geweer getrokken No. 1.
Perwira di kanan membawa mamelukken saber M1830.
Foto berangka tahun 1898.
Sumber

Tombak pasukan Kompi Baki pada tahun 1900-an.
Sumber

Pada tahun 1901 Pakubuwana X meminta kepada pemerintah untuk mempersenjatai pasukannya dengan senapan isi ulang belakang. Senapan tua milik pasukan keraton (senapan lantak - isi ulang depan) jika dibanding dengan milik Legiun Mangkunegara yang saat itu bersenjatakan senapan isi ulang belakang (Baumond / Beaumont), terlihat kuno.
Pada tahun 1906 tercatat bahwa persenjataan pasukan keraton diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan kata lain, kuno dan antik.
Tidak ada jawaban soal senapan, pada tahun 1916 atau saat Perang Dunia I, Pakubuwana X yang mengamati jalannya perang meminta kembali atau lebih tepatnya menyarankan kepada pemerintah untuk mengganti senapan lantak tua pasukan keraton dengan senapan Beaumont.
Kondisi senapan lantak milik pasukan keraton pada tahun 1918 karena saking tuanya sampai tidak dapat digunakan untuk berburu. Bahkan ada senapan yang saat ditembakkan, mencelat. Menurut seorang wartawan de Soematra Post, senapan lantak tua milik keraton yang membutuhkan waktu 24 tempo untuk isi ulang, sudah tidak memadai lagi untuk dipakai. Jurnalis lainnya mendukung permintaan Sunan karena senapan Beaumont tidaklah mematikan seperti halnya senapan mesin ataupun penyembur api.
Di tahun yang sama, keraton juga menginginkan adanya senjata api untuk jaga malam. Tugas jaga yang sudah diperkenalkan sejak tanggal 1 Mei 1918 tersebut dapat memberi penjaga kemampuan dalam menghadapi begundal malam.
Wartawan berpendapat bahwa senjata yang cocok untuk penjaga keraton adalah senjata kompeten yang dapat meningkatkan keberanian namun tidak mematikan yang dapat mengubah penjaga sebagai seorang militan.
Intinya sebuah senjata yang dapat mengeluarkan bunyi keras yang dapat membuat takut lawan namun tidak sebagai senjata api asli. Karena saat malam di Hindia Belanda tidak dapat dibedakan mana polisi atau perampok saat terjadi baku tembak. Dimana dapat terjadi kesalahpahaman yang bisa berdarah.
Wartawan tersebut mengakhiri artikelnya dengan, senjata tersebut harus bisa ditemukan dimana tidak mematikan namun dari penampilan seperti sebuah senjata api. Jika tiap penjaga dilengkapi dengan "mertjon banteng" bukan tidak mungkin mereka bisa melemparnya dengan senang hati saat bersua dengan orang yang mencurigakan.
Jurnalis yang lain juga mempunyai pendapat yang sama. Namun dia menambahkan bahwa untuk menjaga senjata tersebut disalahgunakan maka laras senjata tersebut dibengkokkan seperti halnya trompet yang bisa ditiup sebagai sinyal malam.
Pada tahun 1930, pasukan kavaleri pengawal memakai pedang kavaleri dan karaben Beaumont. pasukan infanteri memakai kapmes dan senapan Beaumont. Sayangnya perubahan persenjataan juga dibarengi dengan dihapuskannya penggunaan kuda untuk kavaleri. Alhasil pasukan kavaleri bertugas bagaikan infanteri. Pasukan akhir dekade 1930-an, pasukan kavaleri pengawal berkekuatan 1 peleton dan bermarkas di Alun - Alun Utara keraton.
Menurut pengamatan seorang wartawan Algemeen Handelsblad pada tahun 1933, keraton mempunyai 600 pucuk senapan Beaumont dan 400 pucuk karaben Beaumont. Pada tahun 1935, pasukan infanteri mendapatkan senapan baru. Namun karena senapan dianggap terlalu panjang (ini sudah termasuk bayonet), maka diambil keputusan untuk memotong senapan tersebut dengan sama ukurannya dengan karaben.
Untuk pasukan Trunakembang memakai senjata yang lebih kecil daripada ukuran aslinya. Dengan kata lain para personel memakai perlengkapan miniatur.
Pedang Suduk
  
   
 
Model pedang ini sekilas campuran antara hartsvanger yang digunakan oleh polisi Belandahartsvanger model awal tahun 1900-an dan sabel pasukan zeni Belanda model M1805.
Sumber

Sabel
Pedang buatan pabrik Ijzerhouwer / Yzerhouwer.
Sumber

Pedang buatan pabrik Solingen.
Nomor urut pedang adalah 541.
Sumber: Catawiki

Kapmes (golok)
Nomor urut kapmes 68.
Sumber: OLX

Kapmes
Sumber

Klewang
Klewang buatan pabrik Ijzerhouwer / Yzerhouwer.
Sumber

Pistol
Inskripsi pada laras adalah "Susuhunan Pakubuwana kaping. X. hing Surakarta" bisa jadi merupakan hadiah kepada Sunan atau dipakai pribadi oleh Sunan langsung.
Pistol merupakan tipe single shot barrel break pistol
Ada kemungkinan laras pistol digeser ke samping untuk pengisian ulang.
Sumber

Pada era kekuasaan Pakubuwono XI (1939 - 1945), peralatan perang pasukan keraton berupa:
  • Senapan
  • Karaben
  • Pistol
  • Revolver
  • Bayonet
  • Degen
  • Tombak
  • Keris
  • Pedang Suduk
  • Floret (untuk anggar)
  • Kapmes
  • Wadung / Pecok
  • Bendo
  • Gober
  • Officiersabel (pedang perwira)
  • Marechausseesabel (klewang)
  • Cavaleriesabel (pedang kavaleri)
  • Artilleriesabel (pedang artileri)
  • Bayonet

Senapan yang tercatat adalah senapan dan karaben Beaumont M71, senapan Mannlicher M95, serta karaben Mauser M98.
Patroontasch (Tempat Peluru) Standar
Beaumont
Sumber: marktplaats

Untuk meriam sendiri, keraton memiliki beberapa macam dalam sejarah.
Di dalam kompleks keraton sekarang masih terdapat beberapa meriam yang diletakkan disana. Seperti Kyai Bringsing buatan Siam; Kyai Pamecut, Kyai Kadal Buntung, dan Kyai Maesakumali yang merupakan peninggalan Kesultanan Mataram; Kyai Bagus dan Kyai Alus yang merupakan pemberian Gubernur Jenderal VOC Cornelis van der Lijn; Kyai Nangkula dan Kyai Sadewa yang juga merupakan pemberian VOC; Kyai Kumbarawa dan Kyai Kumbarawi yang merupakan peninggalan Mataram. Selain itu pula terdapat Kyai Pancawara yang merupakan peninggalan Kesultanan Mataram dan Kyai Sagara Wana serta Kyai Syuhbrasta yang konon merupakan peninggalan Kasultanan Kartasura. Ketiga meriam tersebut tidak digunakan untuk perang namun hanya untuk perayaan peristiwa penting. Tidak ketinggalan pula Kyai Sapujagat (Kyai Sapu Jagat / Kyai Sapujagad / Kyai Sapu Jagad) yang dibuat pada masa bersamaan dengan Kyai Pancawara. Selain itu pula terdapat meriam buatan lokal yaitu Kyai Santri yang dibuat pada tahun 1725. Kyai Santri adalah meriam milik abdi dalem Keparak. Serta jangan lupakan meriam keramat Nyai Setomi buatan Portugal yang merupakan pasangan meriam Si Jagur.
Meriam - meriam tersebut ada maknanya. Trio Kyai Kadal Buntung, Kyai Pamecut, dan Kyai Maesakumali terdapat masing - masing 2 buah atau kembar. Artinya disini adalah penggambaran panca indera manusia. Lubang telinga 2, lubang mata 2, dan lubang hidung 2 buah.
Untuk nama meriam sendiri ada arti dan maknanya. Kyai Swuhbrasta artinya hilang atau hancur. Sedangkan Kyai Segara Wana dari kata Seganten dan Wana, yang artinya laut dan hutan. Kedua meriam tersebut melambangkan hilangnya kekuasaan Sunan terhadap hasil bumi dan hutan.
Kyai Pancawara, Kyai Swuhbrasta dan Kyai Segara Wana yang awalnya berada di depan Pagelaran, posisinya dipindah pada tahun 1964.
Marking Meriam Nyai Setomi
Kemungkinan ini adalah marking pembuat meriam.
Entah tulisan latin atau semacam kode.
Sumber
Mahkota perisai Portugal.
Menurut saya penyebutan Setomi bisa juga dari pengucapan Jawa "Sao Tome". 
Koloni Portugal yang menjadi tempat pembuatan meriam.
Sumber
Salah satu lambang Portugal yaitu armillary sphere.
Untuk membandingkan dengan marking meriam Portugal lainnya.
Anda bisa mengecek link (ini). 
Sumber

Kyai Poncoworo
Sumber

Kyai Syuhbrasta
Sumber

Kyai Sapujagat Zaman Belanda
Perhatikan pada bagian kiri di belakang terdapat gardu jaga atau rumah monyet untuk pasukan keraton

Kyai Santri

Marking angka Jawa 1 6 5 0

Selain  meriam - meriam yang masih ada hingga saat ini, terdapat pula meriam yang sudah tidak ada lagi. Yaitu pada tahun 1797, keraton memiliki meriam kaliber besar bernama Kyai Kumba - Kumba dan Kyai Aswani Kumba. Terdapat pula meriam Kyai Bagus, Kyai Tulus, Kyai Bulus, dan Kyai Ketul serta meriam Palayangan.
Pada tahun 1881, terdapat meriam Si Subrastha, Si Nagarawasa, dan Palayangan.
Pada bulan Agustus 1901, pemerintah memberi Pakubuwana X meriam baru atas permintaan yang bersangkutan. Meriam yang diterima Sunan sebanyak 8 buah. Kedelapan meriam kaliber 7 cm yang terbuat dari perunggu itu langsung ditembakkan saat upacara Tingalan Dalem pada tanggal 23 Desember. Meriam tersebut juga merupakan hadiah atas penyerahan seluruh meriam lama Sunan kepada pemerintah Belanda. Konon meriam lama milik Sunan dia koleksi dari berbagai sumber.
Di tahun 1906, keraton mempunyai artileri yang masih dapat digunakan selain meriam - meriam kuno pemberian VOC. Berarti tidak semua meriam lama milik Sunan diambil oleh Belanda. Tentang meriam VOC itu sendiri, kabarnya mereka diberikan dengan syarat tidak ditembakkan ke pihak Belanda. Surat kabar pada tahun tersebut menyatakan bahwa meriam antik Kasunanan bisa memuaskan dahaga keingintahuan para penggemar antik.
Pada tahun 1935, meriam Kyai Sagara Wana dan Kyai Syuh Brasta digunakan saat perayaan Wiyosan Dalem di Garebeg Mulud. Uniknya pula pada tahun yang sama KNIL juga menyediakan pasukan artileri keraton, 2 meriam dengan nama Kyai Guntur dan Kyai Geni diberikan untuk mengganti meriam yang lama. Untuk mobilitas, meriam tersebut diawaki dengan kuda Stockhorse. Saat upacara perayaan naik tahta Pakubuwana X di tahun tersebut, meriam baru tersebut ditembakkan untuk tembakan salut di Alun - Alun Utara.
Tahun 1937, pasukan keraton masih mengoperasikan meriam 6 pounder (7 cm) mereka. Meski tua saat itu meriam ditembakkan saat pidato upacara garebeg.
Nantinya KNIL menambah atau mengganti meriam tua menjelang kedatangan Jepang. Pada masa kekuasaan Pakubuwana XI, pasukan Jagasura mempunyai 4 buah meriam "L35 Snellaad Kanon 7,5 cm". Untuk meriam ini sendiri, benda tersebut dibilang ketinggalan zaman karena pertama kali dibuat pada tahun 1902 dan dikirim kepada KNIL pada tahun berikutnya. Meskipun meriam tersebut buatan pabrik Jerman yaitu Krupp namun saat itu KNIL mulai menggeser peran meriam tersebut. Paska tahun 1940, meriam L35 dialihfungsikan sebagai meriam pantai dan pada masa Revolusi Kemerdekaan digunakan sebagai meriam upacara di Bandung.
Menurut almanak jaman Jepang tahun 1943, meriam masih digunakan oleh keraton saat acara Garebeg. Seperti yang diterangkan oleh Mr. R.M.T. Tirtadiningrat, meriam ditembakkan beberapa kali setelah acara doa oleh Ulama. Doa keselamatan tersebut dilaksanakan setelah titah dari Sunan. Setelah meriam habis dibunyikan, Sunan kembali masuk ke dalam keraton dari masjid.   
*Update 10 Februari 2017:
Komandan Pasukan Keraton Bersama Perwira dan Meriam

Pasukan Artileri Keraton Masa Pakubuwono XI

Masa Pakubuwana XII di zaman kekuasaan Jepang, pasukan keraton diijinkan untuk memakai karaben Beaumont M71.
Persenjataan pasukan keraton pada masa revolusi kemerdekaan masih belum diketahui. Namun persenjataan yang dimiliki oleh Laskar Marpawandawa pada tahun 1954 adalah:
  • senjata 2 buah
  • revolver 7 buah
  • granat tangan 20 buah

Lampiran Tembusan
Poetoesan Rembag2 Parepatan Badan Karaton Soerakarta Kaping: LII:
Ing Dinten Kemis Kaping 7 Djoeli 1955


<--- Panji / Vandel dan Bendera                                                                                      Seragam --->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar