Oude Indonesie

Oude Indonesie
Nederland oost-indiƫ hier komen we!

Zoeklicht

Zoeklicht
We zullen de kolonie te verdedigen!

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?
Which side are you? Voor het koninklijke or demi Republik?

Minggu, 02 April 2017

Museum Goes To Campus Month - Story

Untuk bulan ini akan ada sesuatu yang berbeda. Karena untuk kali ini saya akan mengisinya dengan acara yang saya ikuti pada bulan November tahun lalu, acara tersebut adalah Museum Goes to Campus. Acara yang diadakan di UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) dari tanggal 8 hingga 13 November tersebut diikuti oleh instansi resmi seperti Museum Nasional, Museum Dirgantara Mandala, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Perpustakaan Nasional Jakarta, dan lain - lainnya. Saya dan teman saya yaitu muara-buku baik sebagai kolektor dan juga lulusan UNS berinisiatif ikut serta dalam acara tersebut.

Selain memamerkan koleksi, diselenggarakan pula acara mendongeng. Pretty good.

Saat saya mendengar bahwa para peserta acara membawa barang koleksinya masing - masing, kami berdua memutuskan untuk membawa koleksi kami yang unik untuk dipamerkan. Untuk hari pertama, kami berdua menempati di lapak yang sudah ditunjuk dari panitia. Meskipun kecil namun cukup untuk ditempati ... maksudnya untuk barang koleksi kami tentunya.

Terlihat helm repro abad pertengahan, sarung pistol Enger-Kress, canteen Inggris, dan mess tin Jepang serta poster propaganda Jepang milik saya.

Saya juga membawa arsip - arsip yang ada hubungannya dengan kota Solo. Foto kuno juga tidak ketinggalan saya bawa. Selain itu pula, ijazah mendiang ayah saya yang merupakan lulusan pertama UNS saya tampilkan pula. Sebagai "penyedap" saya bawa juga bendera mini Jerman Nazi pemberian teman saya dari forum warrelics.

Selain memamerkan koleksi, muara-buku juga tidak ketinggalan berjualan buku - bukunya. hehehe

Untuk koleksi yang dibawa oleh para peserta resmi, hal pertama yang membuat saya kaget adalah dipamerkannya misil anti pesawat S-75 alias SA-2 Guideline buatan Uni Soviet. Rudal yang merupakan koleksi Museum Dirgantara Mandala tersebut menyita banyak sekali perhatian pengunjung. Tentu saja, siapa yang tidak mau berfoto bersama rudal besar???

Selain rudal diatas, Museum Dirgantara Mandala juga membawa meriam anti pesawat Triple Gun dan ...

... replika pesawat pertama buatan Indonesia yaitu Wiweko Experimental Lightplane. Seperti halnya SA-2, ini semua menjadi target selfie para pengunjung.

Untuk koleksi berbau militer, komunitas Solo American Jeep membawa 2 buah koleksinya. Yang pertama adalah truk Dodge M-37 yang ditaruh berdampingan dengan pesawat Wiweko.

Yang kedua adalah Willys MB atau lebih dikenal nama jip. Kendaraan ini ditempatkan di dalam gedung tempat pameran.

Museum Dirgantara Mandala sendiri bisa dibilang paling unik stan-nya. Stan dibentuk seperti hangar pesawat dan lengkap dengan peralatan militer. Tidak ketinggalan pula, personel paskhas ikut serta menjaga. Intinya sangat keren!

Di dalam stan mereka terdapat 2 buah senapan mesin dari pihak berbeda saat Perang Dunia II. Tipe 89 buatan Jepang dan Colt MG-38B buatan Amerika. Paduan yang sangat unik saya kira. 

Kembali lagi ke stan milik kami berdua, sayang hujan terjadi pada siang hari. Sialnya stan kami mengalami kebocoran, alhasil evakuasi!

Untuk hari kedua, kami memutuskan untuk pindah. Karena stan di hari pertama kurang strategis untuk menarik pengunjung. Disebabkan posisinya yang berseberangan dengan jalan yang dilalui oleh pengunjung untuk pulang. Sebenarnya jika menurut rencana, stan ini tepat di titik jalan keluar pengunjung. Namun para pengunjung lebih memilih jalan yang berbeda ...
Akhirnya terlihat pula efek dari pemindahan stan disini muara-buku terlihat menyimak pembicaraan dengan salah satu pegawai dari Museum Vredeburg.

Tidak lama kemudian, pengunjung pada merubungi stan kami.

Jujur saja, pada saat itu kami memang kaget dengan antusiasme pengunjung. Alhasil kami poles lebih stan kami dengan hiasan - hiasan.

Untuk showcase, penempatan barang koleksi lebih diperbagus ...

Tapi yah, hujan datang menerjang kembali ...

But the show won't over yet. Kami memanfaatkan lokasi yang ada dan alhasil para pengunjung tetap tertarik untuk melihat stan kami.

Untuk hari ketiga hingga selesai, kami tetap menempati di teras selain itu pula panitia menyetujuinya. Sejak hari itu, ada pembagian showcase koleksi. Front timur ditempati peralatan militer dan front barat diduduki oleh buku dan arsip. hehehe

Front barat ...

Front timur ...

Helm abad pertengahan milik saya menjadi komoditas panas untuk berfoto.

Agar pengunjung tahu bahwa koleksi saya boleh untuk dibuat berfoto atau selfie, teman saya Riandiko Ardyas berinisiatif untuk menggambar sebuah pengumuman.

"Hujan tetap berlalu namun si guideline tetap diam seperti batu"

Meskipun hujan namun pengunjung tetap senang melihat semua koleksi yang ada di festival ini.

Aaaaand action!! hehehe

Dari para pengunjung yang ada, tidak ketinggalan para siswa sekolah yang ikut datang. Terlihat anak dibawah ini sama antusiasnya dengan 2 orang di atas. hehehe

Semua pasti ada akhirnya, tidak terkecuali Museum Goes to Campus. Acara ditutup dengan tokoh ternama Indonesia yaitu Pong Harjatmo yang memberi pidato penutup.

Jadi inilah ringkasan dari acara Museum Goes to Campus yang kami ikuti. Untuk post berikutnya pada bulan April akan mengangkat koleksi - koleksi militer yang dipamerkan di festival tersebut. .... selain koleksi saya tentunya dah.


Usia: -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar